01 Juni 2026

Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa UPT SPF SDN Paccerakkang Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026


MULIAINFO. Com. Makassar --Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya pagi ini kita semua, Bapak/Ibu guru, staf, dan siswa-siswi UPT SPF SDN Paccerakkang dapat berkumpul mengikuti upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026.

Yang saya hormati Bapak/Ibu guru dan staf tata usaha UPT SPF SDN Paccerakkang yang saya banggakan. Yang saya cintai anak-anakku siswa-siswi kelas 1 sampai kelas 6 yang pagi ini ikut upacara dengan tertib dan semangat. Barisan kalian yang rapi di halaman sekolah kita adalah bukti disiplin, pengamalan Sila ke-2 Pancasila.

Tanggal 1 Juni adalah hari lahirnya Pancasila. Tahun 1945 Bapak Ir. Soekarno menyampaikan gagasan 5 dasar negara di sidang BPUPKI. Dan hari ini, tahun 2026, giliran kita semua warga UPT SPF SDN Paccerakkang, guru dan siswa-siswi, untuk membuktikan Pancasila tetap hidup di sekolah tercinta ini.

Sebagai Kepala Sekolah, saya Ibu Hj. Hudaya, S.Pd berpesan: Upacara ini milik kita semua. Siswa-siswi adalah pelaku utama. Petugas pengibar bendera dari siswa, pembaca UUD 1945 dari siswa, pemimpin barisan dari siswa. Karena Pancasila harus diamalkan mulai dari kalian sejak bangku SD.

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita amalkan bersama saat berdoa sebelum upacara dimulai. Siswa-siswi UPT SPF SDN Paccerakkang yang Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, semua khusyuk sesuai keyakinannya. Saling menghormati, tidak mengejek. Itulah toleransi anak Paccerakkang.

Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Anak-anakku yang ikut upacara, lihat teman di kiri kananmu. Jangan senggol, jangan dorong, jangan bicara saat penghormatan. Tolong teman yang pusing kepanasan. Itu adab. Itu bukti kalian beradab, sesuai Sila ke-2.


Sila ketiga: Persatuan Indonesia. Barisan upacara pagi ini campur kelas 1 sampai 6, laki-laki dan perempuan, semua jadi satu keluarga besar UPT SPF SDN Paccerakkang. Tidak ada perbedaan. Saat Garuda Pancasila dinyanyikan, suara kita satu. Merah putih tetap jaya.

Sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan. Setelah upacara, siswa-siswi belajar musyawarah di kelas. Pilih ketua kelas, atur jadwal piket, rencanakan lomba kelas. Dengarkan pendapat teman dulu, baru putuskan bersama. Tidak main paksa.

Sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ibu lihat siswa-siswi UPT SPF SDN Paccerakkang yang ikut upacara pagi ini semua dapat tempat, dapat ilmu, dapat perhatian yang sama dari guru. Tugas petugas upacara dibagi adil bergilir. Itu keadilan yang kita latih setiap hari.

Anak-anakku siswa-siswi, Ibu Hj. Hudaya bangga pada kalian. Hafal Pancasila itu hebat, tapi mengamalkan Pancasila saat baris, saat hormat bendera, saat bantu teman, itu jauh lebih hebat. Jadilah anak Paccerakkang yang cerdas otaknya dan mulia akhlaknya.

Bapak/Ibu guru hebat UPT SPF SDN Paccerakkang, mari kuatkan barisan. Tanamkan nilai Pancasila di setiap pembelajaran. Staf TU layani orang tua siswa Kelurahan Paccerakkang dengan senyum dan ramah. Kalau kita kompak, Insya Allah sekolah kita jadi sekolah penggerak dan rujukan pengamalan Pancasila di Kecamatan Tamalanrea.

Sebagai penutup, mari kita panjatkan doa untuk bangsa Indonesia dan untuk seluruh keluarga besar UPT SPF SDN Paccerakkang. Dirgahayu Pancasila ke-81. Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa. Semoga di bawah kepemimpinan Ibu Hj. Hudaya, S.Pd, UPT SPF SDN Paccerakkang terus melahirkan generasi emas. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Merdeka! Merdeka! Merdeka! ( Yahya )


PT Putri Mulia Media Group, Ucapkan Selamat Hari Pancasila 1 Juni 2026 : Saatnya Buka Pengumuman Seleksi Kepsek


*Makassar* – PT PUTRI MULIA MEDIA GROUP mengucapkan Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Hari ini bendera merah putih berkibar, pidato dibacakan, "Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa" diteriakkan serempak. Tapi di Makassar, puluhan PPPK yang 4 tahun PLT, lolos BCKS, lulus Ukom CAT 70 soal, justru dipersatukan oleh luka yang sama: *pengumuman hasil seleksi Kepsek tidak pernah dipublikasi*. Upacara selesai, luka tetap menganga.

Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Adil itu kalau gagal dikasih tau gagalnya di soal nomor berapa. Beradab itu kalau gugur dikasih surat, bukan digantung status. Faktanya: puluhan PPPK Makassar ikut Ukom CAT, wawancara teks berjam-jam, tapi hasilnya? 0 nilai diumumkan, 0 ranking dibuka, 0 berita acara. Ruang GTK tulis "Lulus BCKS", SK tulis "Tidak Ada". Ini bukan beradab. Ini biadab yang dibungkus birokrasi.

Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kata kuncinya "seluruh". PPPK itu ASN sesuai UU ASN. PPPK bayar pajak, PPPK sertifikasi, PPPK ngabdi 4 tahun tanda tangan SK BOS. Tapi saat seleksi Kepsek 2024-2025, keadilan sosial mentok di pintu "pemetaan kebutuhan Kep 129/P/2025". Pintu itu cuma dibuka buat PNS. PPPK disuruh antre, disuruh daftar, disuruh lulus BCKS... lalu disuruh pulang tanpa SK. Kalau ini keadilan sosial, berarti sila ke-5 cuma berlaku buat sebagian rakyat.

Pagi ini kita hormat bendera, nyanyi Indonesia Raya, lantang ucap Pancasila. 2 jam kemudian kita buka web BKPSDM Makassar cari "pengumuman hasil seleksi Kepsek 2024". Hasil: nihil. Google, Facebook, grup WA: nihil. SK Kepsek definitif 2025 turun: nama PPPK nihil. Ironisnya: di saat bangsa bersatu dalam upacara, puluhan guru justru tercerai-berai dalam ketidakpastian. Bersatunya di mana kalau datanya dikubur? Pancasila mempersatukan, tapi "pengumuman tidak ada" memecah.

Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Hikmat tanpa data itu kebodohan yang dipoles. Kebijaksanaan tanpa transparansi itu otoriterisme berseragam. Kepala Sekolah itu pejabat publik, gajinya dari pajak rakyat. Rakyat berhak tau siapa yang lolos, berapa nilainya, berapa kuotanya. Permendikdasmen 7/2025 buka pintu PPPK. Kepmendikdasmen 129/P/2025 sebut "guru ASN". Tapi meja seleksi Makassar tutup tirai. Hikmat dimatikan lampunya. Permusyawaratan dibatalkan sepihak. Sisa 1 kata: hening.

Katanya seleksi Kepsek berbasis merit system. Faktanya merit puluhan PPPK Makassar mati di meja "pemetaan kebutuhan" Kepmendikdasmen 129/P/2025. Meja itu nggak pernah buka tirai pengumuman. Nggak pernah tunjuk siapa ranking 1-10. Nggak pernah sebut berapa kuota PPPK vs PNS. Guru Penggerak + BCKS 110 JP gugur tanpa penjelasan. Merit tanpa data itu mayat. Dipajang tapi nggak bernyawa. Sila ke-2 dan ke-5 ikut mati di meja yang sama.

Negara lewat Kemendikdasmen kasih sertifikat BCKS, stempel resmi, berlaku 5 tahun. Itu pengakuan: "Anda kompeten". Daerah lewat SK 2025 kasih kepastian 0 hari. Itu pengkhianatan: "Anda nggak kami butuh". PPPK pegang sertifikat 5 tahun tapi 5 detik buat umumkan hasil aja nggak sanggup. Sila ke-5 bilang "Keadilan Sosial". Realitanya: sosial buat PNS, ketidakpastian buat PPPK. Sertifikat jadi surat cinta tanpa alamat. Lulus tapi nggak diakui.

Kami puluhan PPPK nggak alergi kalah. Kasih kami nilai 40, kami terima. Kasih kami ranking 200 dari 200, kami terima. Kasih kami tau kuota PPPK cuma 0, kami terima. Yang kami tolak: kalah model pengecut. Kalah tanpa skor. Kalah tanpa berita acara. Kalah karena "pengumuman tidak pernah dipublikasi". Itu bukan kalah gentleman. Itu disingkirkan diam-diam. Itu tamparan keras ke Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Di Hari Pancasila ini kami nggak minta SK Kepsek gratis. Kami cuma nagih utang negara: 1 file PDF pengumuman hasil. Isinya sederhana: Nama, Nilai Ukom CAT, Nilai Wawancara, Ranking, Keterangan Lolos/Tidak. Itu wujud Sila ke-4: kerakyatan yang mengawasi. Itu wujud UU Keterbukaan Informasi Publik. Sampai SK 2025 diteken, utang 1 file PDF itu nggak pernah dibayar lunas. Google hasilnya 0. Website BKPSDM hasilnya 0. Hati puluhan guru hasilnya: kecewa.

Dia PLT 4 tahun = 1460 hari tanda tangan SK BOS, SPPD, ijazah siswa. Dia Guru Penggerak angkatan 8. Dia lulus Ukom 70 soal. Tapi semua kalah sama 1 pertanyaan yang nggak pernah dijawab Pemkot: "Pak, saya gugur karena nilai jelek, atau gugur karena status PPPK saya?" Pengumuman tidak pernah dipublikasi bikin pertanyaan itu menggantung 365 hari. 4 tahun pengabdian + 2 sertifikat negara disetop sama 1 hening. Itu bukan bijaksana. Itu kejam.

Momentum 1 Juni ini waktunya koreksi. Kami nggak demo. Kami nggak anarkis. Kami cuma minta Pemkot Makassar buka tirai. Publikasikan hasil seleksi Kepsek 2024-2025. Buka nilai Ukom CAT. Buka hasil wawancara teks. Buka berapa kuota PPPK yang dialokasikan. Buktikan bahwa Pancasila bukan cuma dibaca saat upacara, tapi dikerjakan saat buat kebijakan. Sila ke-4 tanpa data = slogan kosong.

*Selamat Hari Pancasila 1 Juni 2026.* Mari jadikan Pancasila GPS, bukan hiasan dinding. Negara kuat kalau ASN-nya diperlakukan adil. Dan adil dimulai dari 1 hal paling dasar: *Publikasikan pengumuman seleksi Kepsek Makassar 2024-2025 sekarang juga.* 0 PPPK lolos hari ini kami terima. Tapi 0 transparansi selamanya, kami tolak.  
*- Redaksi Muh Yahya -*


Keteladan Guru Dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila di SDN Sudirman 1 Tahun 2026


MULIAINFO. Com. Makassar --  Senin, 1 Juni 2026, SDN Sudirman menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dengan suasana yang khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Sejak pukul 07.00 WIB lapangan sekolah sudah dipadati oleh seluruh warga sekolah. Guru, tenaga kependidikan, dan siswa berbaris rapi sesuai kelas masing-masing. Bendera Merah Putih tampak berkibar anggun di tengah lapangan, menjadi simbol persatuan yang mengingatkan kita pada perjuangan para pahlawan. Cuaca pagi itu cerah, seakan ikut mendukung kelancaran jalannya upacara dari awal hingga akhir.

Yang membuat upacara tahun ini terasa istimewa adalah komposisi petugasnya. Seluruh tugas upacara dipercayakan sepenuhnya kepada dewan guru. Pemimpin upacara, komandan peleton, pengibar bendera, pembaca teks Pancasila, pembaca UUD 1945, pembaca doa, hingga dirigen dan paduan suara, semuanya adalah bapak dan ibu guru. Hal ini menjadi bentuk keteladanan langsung dari guru kepada siswa. Dengan turun langsung menjadi petugas, guru menunjukkan bahwa mengamalkan Pancasila bukan hanya tugas siswa, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

Upacara dipimpin oleh pembina upacara Kepala SDN Sudirman, Ibu Haslinda, http://S.Pd. Dengan wibawa dan ketegasannya, beliau memimpin jalannya upacara dari awal sampai akhir. Kehadiran Ibu Haslinda sebagai pembina memberikan kesan mendalam bagi peserta upacara. Amanat yang beliau sampaikan tidak hanya menjadi instruksi formal, tetapi juga nasihat yang menyentuh hati. Para guru dan siswa tampak antusias menyimak setiap kata, karena pesan yang disampaikan sangat relevan dengan tantangan zaman sekarang.

Seluruh siswa SDN Sudirman hadir sebagai peserta upacara. Mereka datang dengan seragam lengkap, dasi rapi, dan atribut sekolah yang dikenakan dengan bangga. Saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan, suara mereka menggema ke seluruh penjuru lapangan. Barisan yang rapi dan sikap sempurna yang ditunjukkan siswa menjadi bukti bahwa nilai disiplin dan cinta tanah air sudah mulai tertanam sejak dini. Momen ini juga menjadi pembelajaran langsung tentang sila ke-2 dan ke-3 Pancasila: kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia.

Rangkaian upacara dibuka dengan laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara. Setelah penghormatan, acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh tim pengibar bendera yang seluruh anggotanya adalah guru. Detik-detik pengibaran berlangsung sangat khidmat. Semua peserta berdiri tegak, tangan diletakkan di dada kiri, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh penghayatan. Bendera yang naik perlahan ke puncak tiang menjadi simbol semangat kemerdekaan dan pengingat bahwa Pancasila adalah dasar negara yang harus terus kita jaga bersama.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila oleh salah satu guru yang suaranya lantang dan penuh wibawa. Setiap sila diucapkan dengan jelas dan tegas, sehingga seluruh peserta dapat mendengar dan menghayatinya dengan baik. Setelah itu dilanjutkan pembacaan teks UUD 1945 oleh guru lainnya. Pembacaan dua naskah penting ini menjadi pengingat bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar adalah fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suasana hening saat pembacaan berlangsung menunjukkan betapa besar rasa hormat warga SDN Sudirman terhadap dasar negara.

Puncak acara adalah penyampaian amanat pembina upacara oleh Ibu Haslinda, http://S.Pd. Dalam amanatnya, beliau menekankan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan hanya seremoni tahunan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Beliau mengajak seluruh guru untuk terus menjadi teladan dalam bersikap jujur, disiplin, dan gotong royong. Kepada siswa, beliau berpesan agar selalu menghormati teman, membantu yang kesulitan, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Di era digital seperti sekarang, nilai toleransi dan persatuan menurut beliau menjadi semakin penting untuk menangkal perpecahan.

Setelah amanat selesai, suasana upacara menjadi semakin syahdu dengan penampilan paduan suara guru. Di bawah arahan dirigen yang juga guru, mereka membawakan lagu-lagu perjuangan seperti "Garuda Pancasila" dan "Bagimu Negeri". Lantunan suara yang kompak dan penuh semangat membuat banyak siswa ikut bernyanyi bersama. Penampilan ini bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk nyata pengamalan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, karena lagu-lagu tersebut juga mengandung doa dan rasa syukur kepada Tuhan.

Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini memberikan pelajaran berharga bagi seluruh warga sekolah. Guru yang menjadi petugas telah memberi contoh langsung tentang tanggung jawab dan dedikasi. Sementara siswa sebagai peserta belajar tentang pentingnya disiplin, menghargai orang lain, dan mencintai bangsanya. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan karakter melalui upacara masih sangat relevan. Nilai-nilai Pancasila tidak hanya dihafal, tetapi harus dirasakan dan dipraktikkan setiap hari, mulai dari hal-hal kecil di lingkungan sekolah.

Upacara ditutup dengan pembacaan doa oleh salah satu guru yang memohon keberkahan dan keselamatan bagi bangsa Indonesia. Doa dipanjatkan dengan khusyuk oleh seluruh peserta. Setelah itu, pemimpin upacara melapor kepada pembina bahwa rangkaian upacara telah selesai dilaksanakan. Dengan penghormatan terakhir, seluruh peserta membubarkan diri secara tertib dan kembali ke kelas masing-masing. Semoga semangat Pancasila yang dikobarkan hari ini terus hidup di hati setiap siswa dan guru SDN Sudirman, menjadi bekal untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan. ( Yahya )



31 Mei 2026

Mentok 56 Tahun :15 Tahun PLT Makassar Terkubur Aturan KSPSTK


MULIAIFON. Com. Makassar -- Delapan tahun, 2016-2024, guru disuruh antre ikut diklat NUKS. Bayar sendiri, cuti sendiri, jauh dari keluarga. Materinya dihafal, ujian dilewati, sertifikat NUKS digenggam erat kayak pegang masa depan. Pejabat bilang: "Ini syarat mutlak, Pak/Bu. Kalau ada NUKS, peluang definitif terbuka lebar." Tapi lebarnya ke mana? 8 tahun berlalu, NUKS numpuk di map, SK definitif nggak pernah numpuk di meja. Itu bukan syarat, itu jebakan. Negara minta bukti kompetensi, tapi nggak pernah kasih bukti komitmen.

Lima belas tahun duduk di kursi yang sama, tapi statusnya nggak pernah "duduk". Tiap pagi stempel "Plt" dibasahi tinta, tiap sore laporan ditandatangani "Plt". Anak didik lulus, guru pensiun, kurikulum ganti 3 kali, tapi di SK dia tetap "Pelaksana Tugas". Meja lecet, kursi goyang, tapi wibawa kepemimpinan harus kokoh. 15 tahun jadi bapak/ibu bagi 500 murid, tapi di mata birokrasi tetap "anak tiri" yang nggak layak dapat akta lahir bernama SK Definitif. Ini bukan pengabdian lagi, ini penyanderaan status.

Dulu, 2016-2024, aturannya bengis tapi jelas: nggak ada NUKS, tidak usah mimpi. Guru nurut. Kumpul duit, kumpul sertifikat, kumpul harapan. Sekarang, 2025-2026, aturannya ganti muka: NUKS dihapus, ganti SIM KSPSTK + jalur Guru Penggerak. Kedengarannya modern. Tapi bagi PLT yang 8 tahun nurut NUKS, ini pengkhianatan. Pintu yang dia gedor 8 tahun tiba-tiba dibongkar. Gantinya pintu baru, tapi kuncinya "usia 56 tahun". Dia udah 58. Jadi selama ini disuruh ngumpulin kunci yang salah? Kalau ganti aturan semudah ganti baju, kenapa nasib guru harus seganti-ganti itu?

Wali Kota Makassar ganti. Kepala Dinas ganti. Menteri ganti. Permendikdasmen No. 7/2025 turun. Tapi alasan "belum ada kuota, nunggu pemetaan, nunggu rotasi" nggak pernah ganti. Itu bukan birokrasi, itu mantra penundaan. Negara paling rajin kalau soal syarat: upload SK, upload SKCK, upload kinerja, pakta integritas. Semua dikerjakan PLT. Semua lulus. Tapi ada satu syarat yang nggak pernah tertulis: "Syaratnya harus sabar menunggu sampai tua." Kalau dari awal jujur bilang "ngabdi aja, jangan harap SK", nggak akan ada 15 tahun luka.
  
Katanya SIM KSPSTK canggih. Semua digital, semua audit, semua transparan. Benar, sistem itu transparan membaca tanggal lahir di Dapodik. Begitu umur 56 tahun 1 hari, otomatis merah, mentok. Tapi sistem itu buta. Buta membaca 15 tahun lembur. Buta membaca ratusan siswa yang lulus karena tangan PLT. Buta membaca surat cinta orang tua: "Terima kasih Pak Kepsek" - padahal statusnya masih Plt. Pemkot Makassar bisa cepat mutasi pejabat, tapi lambat menuntaskan nasib PLT. Sistem bisa menghitung pensiun, tapi nggak bisa menghitung pengorbanan. Transparansi tanpa keadilan itu sama aja: kaca yang bening, tapi memantulkan wajah orang yang salah.

Pengalaman 15 Tahun Jadi Angin Lewat"
SIM KSPSTK itu kejamnya rapi. Begitu tanggal lahir di Dapodik nunjuk angka 56 tahun 1 hari, sistem langsung kunci. Merah. Mentok. Nggak ada tombol "pertimbangkan pengabdian". Tidak ada kolom "15 tahun jadi PLT". Padahal pengalaman manajerial itu nggak bisa di-download. 15 tahun ngadepin orang tua marah, ngadepin BOS telat, ngadepin murid tawuran, ngadepin akreditasi. Itu S2 lapangan. Tapi sistem Pemkot Makassar lebih percaya angka KTP daripada jejak keringat. Logika sistem: guru 30 tahun baru lulus GP tapi belum pernah pegang sekolah = layak. Guru 58 tahun 15 tahun jadi PLT = gugur. Ini seleksi kompetensi atau seleksi KTP?

Dinas Bilang "Nunggu Pemetaan 4 Tahun", Anak Didik Nggak Pernah Nunggu.  
Alasan klasik Pemkot Makassar: "Kami nunggu pemetaan kebutuhan kepsek 4 tahun ke depan, Bu/Pak". Pemetaannya rapi, grafiknya warna-warni, rapatnya berkali-kali. Tapi anak didik kelas 1 tahun ini nggak bisa bilang "Pak saya nunggu 4 tahun lagi baru mau diajar". Kebutuhan kepastian hukum PLT juga nggak bisa ditunda. 15 tahun sekolah dipimpin PLT, berarti 15 tahun murid diajar kepemimpinan "sementara". 15 tahun orang tua lapor ke "Plt". Pemetaan jalan, SK nggak jalan. Artinya pemetaan itu hanya buat guru yang masih muda. Yang tua cukup dipetakan ke pojokan, nunggu pensiun sambil gigit jari. Wali Kota Makassar ganti 2 periode, pemetaannya tetap "belum selesai".

Guru Penggerak Dijadiin Raja, PLT Senior Dijadiin Patung"
Nggak ada yang anti Guru Penggerak. Itu program bagus, investasi jangka panjang. Tapi pertanyaannya: PLT senior yang 15 tahun nggak sempat ikut GP mau ditaruh di mana? Dia nggak sempat GP karena 24 jam otaknya mikir sekolah: dana BOS, rapor, dapodik, konflik guru. Sementara GP butuh waktu, butuh tugas, butuh pendampingan. Dia pilih ngurusin 500 murid daripada ngurusin sertifikat. Sekarang giliran panen, sertifikat GP yang dipetik. Pengabdiannya jadi patung di halaman sekolah: dilihat, difoto, tapi nggak dikasih SK. Pemkot Makassar harus adil: GP untuk masa depan, tapi PLT senior itu masa lalu yang bikin masa depan itu ada. Jangan makan buahnya sambil nebang pohonnya.

2016-2024 Syaratnya Dokumen. 2025-2026 Syaratnya Usia. Yang Ganti Cuma Aturannya, Yang Nangis Orang Sama. 
Zaman NUKS, yang dikejar tumpukan map. SK manajerial, SKCK, PK Guru, sertifikat diklat. PLT kumpulin semua. Map setebal skripsi. Zaman KSPSTK, yang dikejar tanggal lahir. Map setebal itu kalah sama angka 56 di KTP. Aturan ganti kayak ganti filter IG. 2016 filternya "dokumen lengkap". 2026 filternya "usia muda". Yang ganti cuma aturannya. Yang rugi orang yang sama: guru yang nurut dari awal. Ini bukan reformasi birokrasi. Ini roulette birokrasi. Guru disuruh muter terus, tapi bandarnya selalu menang. Wali Kota Makassar hari ini bisa bikin Perwali baru, tapi Perwali nggak bisa mutar balik waktu 15 tahun pengabdian.

Delapan tahun guru disuruh ikut NUKS. Dijanjikan: "Ini syarat mutlak". Lima belas tahun guru disuruh jadi PLT. Dijanjikan: "Nanti kalau ada kuota". Sekarang 2026: "Maaf Pak, usia Bapak lewat". Ini namanya apa kalau bukan kasih harapan palsu berjamaah? Suruh lari maraton 15 tahun, pas garis finish kelihatan, garisnya dipindah 5 meter ke depan. Terus panitianya bilang: "Maaf, aturannya ganti". Pendidikan karakter buat siswa ditekankan tiap upacara: jujur, tanggung jawab, menepati janji. Lha negara sendiri gimana? Kalau pembodohan ini nggak sistemik, berarti kebetulan aja guru PLT yang kena semua. Kebetulan 15 tahun. Kebetulan pas usia 56+. Kebetulan pas NUKS dihapus. Terlalu banyak "kebetulan" untuk disebut takdir. Ini desain.

Permen Rapi, Kepmendik Detail, Tapi Buta Sama Luka 15 Tahun" 
Permendikdasmen No. 7/2025 pasal-pasalnya rapi kayak skripsi cumlaude. Kepmendik 129/P/2025 ayat-ayatnya detail kayak SOP rumah sakit. SIM KSPSTK klik-kliknya canggih kayak aplikasi bank. Tapi coba cari: ada nggak satu pasal yang nulis "Bagaimana nasib PLT yang sudah kadung tua karena menunggu 15 tahun?" Nggak ada. Aturan dibuat untuk masa depan, tapi melupakan yang sudah mengorbankan masa depannya. Pemkot Makassar bisa bikin Perwali tebal-tebal soal ASN, tapi nggak ada satu baris yang bilang "PLT 10 tahun+ dapat afirmasi". Rapi di kertas, rapuh di rasa keadilan. Kalau gitu, Permen itu cuma buku resep. Nggak pernah nanya: yang masak 15 tahun udah makan belum?

Negara Bisa Cepat Ganti Permen, Kenapa Lambat Kasih Keadilan?? 
Faktanya: NUKS bisa dihapus 1 tahun. KSPSTK bisa diluncurkan 6 bulan. Wali Kota Makassar bisa ganti dalam 5 tahun. Tapi keadilan buat PLT 15 tahun? 15 tahun nggak kelar-kelar. Cepat kalau urusan sistem. Lambat kalau urusan manusia. Cepat kalau urusan anggaran pelatihan. Lambat kalau urusan SK definitif. Ini bukan soal nggak bisa. Ini soal nggak mau. Karena mengakui luka 15 tahun berarti mengakui salah 15 tahun. Dan birokrasi paling alergi sama kata "salah". Lebih baik ganti aturan daripada minta maaf.

PLT 15 Tahun Nggak Minta Jabatan, Dia Minta Pengakuan" 
Dengerin baik-baik, Pak Wali Kota Makassar, Bu Kadis. PLT 15 tahun itu nggak minta kursi empuk. Dia nggak minta mobil dinas. Dia minta satu hal yang murah tapi paling mahal di birokrasi: PENGAKUAN. Pengakuan bahwa 15 tahun lemburnya dihitung. Pengakuan bahwa "Plt" bukan kutukan abadi. Pengakuan bahwa dia bukan "penjaga sekolah sementara", tapi "pembangun sekolah sesungguhnya". Sekarang dia mau pensiun dengan status "Plt". Itu kayak nikah 15 tahun tapi di KTP statusnya "pacaran". Sakitnya di situ. Bukan di gaji, tapi di harga diri.

Jangan Bilang "Regenerasi" Kalau Yang Diregenerasi Cuma Aturan.  
Pejabat suka banget ngomong "regenerasi". Kedengarannya keren, modern, visioner. Tapi regenerasi yang mana? Kalau yang diregenerasi cuma aturan, sementara manusianya dibuang, itu namanya bukan regenerasi. Itu penggusuran. Jangan bilang "reformasi birokrasi" kalau yang direformasi cuma formulir KSPSTK. Reformasi sejati itu mereformasi nurani. Kalau guru senior dibuang karena tua, terus anak didik diajarkan "hormati orang tua", muridnya pasti bingung: "Lah Bapak/Ibu guruku aja nggak dihormati negaranya?" Pemkot Makassar mau bangun kota berkarakter, tapi karakternya mulai dari membuang gurunya sendiri?

Cukup. Giliran Negara Yang Membuktikan: Birokrasi Untuk Manusia, atau Manusia Untuk Birokrasi? 
Cukup. Delapan tahun NUKS sudah. Lima belas tahun PLT sudah. Air mata sudah. Petisi sudah. Sekarang giliran negara yang membuktikan. Wali Kota Makassar, Kepala Dinas Pendidikan, Kemendikdasmen... pilih: mau dikenang sebagai pemimpin yang menuntaskan luka, atau dikenang sebagai pemimpin yang menumpuk janji? Jangan sampai nanti di batu nisan PLT senior tertulis: "Di sini terbaring Guru yang 15 tahun mengabdi, 0 tahun diakui". Birokrasi itu diciptakan untuk manusia. Kalau manusianya hancur karena birokrasi, berarti birokrasinya yang harus dibongkar. Bukan manusianya yang harus dihapus. ( Yahya )


30 Mei 2026

Dari TPA Antang 2016 Sampai Era Mulia 2025 Pemkot Gagal Tuntaskan Definitifisasi CKS Jadi Kertas Pajangan, Usia Jadi ALGOJO


MULIAIFO. Com. Makassar – Tiga puluh Maret 2016, Wali Kota Makassar Danny Pomanto melantik 365 kepala sekolah SD di Tempat Pembuangan Akhir Antang. Simbolisnya kuat, ironinya lebih kuat. Sembilan tahun kemudian, jejak “pelantikan di kubangan sampah” itu masih menghantui. PLT Kepala Sekolah tidak hilang, malah beranak pinak. Dari 1 PLT darurat jadi ratusan PLT abadi yang statusnya menggantung sampai 2025.

Regulasi jelas. Permendikbudristek No.40 buka jalur CKS. Periode I 2017 dan Periode II 2024 sudah melahirkan guru-guru layak pimpin sekolah. Tapi Pemkot Makassar gagal mengeksekusi. Era Danni Pomanto menunda. Era MULIA mewarisi tumpukan PLT estafet karena pensiun dan usia lewat batas. Akibatnya: 314 UPT SPF dipimpin pejabat sementara yang tak berani buat kebijakan jangka panjang. Sekolah jalan tanpa nahkoda tetap.

Lirik “Salah siapa ini dosa siapa” kini jadi cermin. Saat birokrasi gagal memberi kepastian, jawaban dilempar ke “atas sana”. Ayat “innallaha ma'ashobirin” dipaksa jadi penenang massal. Padahal sabar PLT sudah 9 tahun. Kalau 2016 darurat masih bisa dimaklumi, 2025 ini namanya abai. Dan abai pejabat dibayar lunas oleh murid-murid Makassar yang masa depannya digantung status PLT.

1. Panggung TPA Antang 2016: Simbol Diberangkatkan dari Kubangan Sampah*  
Wali Kota Danny Pomanto memilih TPA Antang sebagai lokasi pelantikan 365 Kepsek SD 30 Maret 2016. Alasannya: biar pejabat “menghayati kerja keras pemulung”. Realitanya: citra pendidikan Makassar justru dikubur di tumpukan sampah. 364 definitif, 1 PLT gol III/b dilantik paksa. Sejak awal negara sudah memberi sinyal, status PLT itu darurat. Tapi darurat yang dibiarkan 9 tahun bukan darurat lagi, itu kelalaian.

Jeda Palsu 2017: Kemenangan Semu di Gedung PKK*  
1 Maret 2017 Pemkot Makassar tepuk dada. 20 Kepsek SD-SMP dilantik di Gedung PKK Jalan Anggrek. PLT 2016 dinaikkan jadi definitif karena naik gol III/c. Spanduk “Zero PLT” seolah jadi prestasi. Padahal itu cuma jeda. Tidak ada sistem yang dibangun agar PLT tidak lahir lagi. Begitu ada pensiun dan mutasi, lubang kosong muncul lagi. Klaim “tak ada PLT” runtuh lebih cepat dari spanduknya.

Bom Waktu 2020: Ganti Papan Nama, Masalah Tetap*  
13 Agustus 2020, 370 ASN dilantik megah di Auditorium IPTEKS Unhas. SD berubah nama jadi UPT SPF. 314 Kepsek UPT SPF baru lahir. Tapi di balik gegap gempita nomenklatur, Pemkot menyelipkan bom waktu: guru ber-NUKS CKS 2017 dipasang jadi PLT. Sertifikat CKS mestinya jalan ke definitif. Kenyataannya CKS cuma jadi label “calon abadi”. Status sementara dipoles jadi permanen.

Regulasi vs Realita: Permendikbudristek Diperkosa Birokrasi*  
Permendikbudristek No.40 buka jalan jelas: lulus CKS, ikut seleksi, penuhi syarat, naik definitif. Periode I 2017 melahirkan calon. Periode II 2024 menambah antrean. Di atas kertas semua rapi. Di lapangan, Pemkot Makassar main tunda. Alasan klasik: formasi, anggaran, persetujuan pusat. Akibatnya: regulasi diludahi. Guru yang taat aturan dihukum dengan status menggantung.

Warisan Danni Pomanto: PR Dibungkus Rapi, Dibiarkan Busuk"  
2016-2020 adalah 5 tahun emas untuk membereskan PLT. Pelantikan massal sudah dilakukan. Data Kepsek pensiun sudah ada. Tapi Pemkot era Danni Pomanto memilih aman: lantik dulu, urus belakangan. Belakangan itu tidak pernah datang. PR definitifisasi PLT dibungkus rapi lalu dilempar ke wali kota selanjutnya. Warisan yang ditinggal bukan sistem, tapi bom waktu karier ribuan guru.

Era MULIA 2025: PLT Estafet, Bukan Solusi  
Masuk pemerintahan MULIA, masalah PLT bukan selesai malah mutasi. PLT lama pensiun, kursi kosong, lalu lahir PLT baru. Satu sekolah bisa gonta-ganti 3 PLT dalam 5 tahun. Estafet tongkat komando, tapi tanpa garis finish. Pendidikan jadi ajang latihan kepemimpinan sementara. Anak didik yang jadi kelinci percobaan.

Pensiun Jadi Dalih, Disiplin Jadi Alibi*  
Alasan utama lahirnya PLT baru: Kepsek definitif pensiun atau dicopot karena pelanggaran disiplin. Wajar, itu siklus ASN. Yang tidak wajar: Pemkot selalu punya waktu cepat melantik PLT, tapi tidak pernah punya waktu membereskan definitifisasi. Cepat saat darurat, lambat saat kepastian. Birokrasi pilih jalan pintas, bukan jalan benar.

Ambang Batas Usia: Algojo Regulasi"
Ini paling kejam. Guru sudah ikut CKS 2017, lulus seleksi 2024, kinerja dinilai layak. Tapi usia lewat 56 tahun jadi tembok. Regulasi yang mestinya melindungi, kini mengeksekusi. Pengabdian 20 tahun jadi PLT kalah telak dengan tanggal lahir di KTP. Negara mendidik warganya, lalu membuang gurunya karena tua.

Pendidikan Jadi Korban: Sekolah Tanpa Nahkoda Tetap" 
Dampaknya langsung ke kelas. Kepsek PLT tidak berani buat kebijakan jangka panjang. Takut dicopot, takut disalahkan. Program sekolah jalan 6 bulan berhenti. Guru tidak ada kepastian atasan. Anggaran rawan karena tanda tangan PLT lemah di mata dinas. Yang rugi siapa? Murid SD-SMP Makassar yang masa depannya digantung status PLT.

Simbol TPA Kembali: Pendidikan Dibuang ke “Tempat Sampah” Kebijakan*  
2016 pelantikan di TPA Antang dianggap gebrakan. 2025 kita sadar: itu metafora. Masalah PLT memang diperlakukan seperti sampah. Dibahas saat pelantikan, lalu dibuang ke tumpukan berkas. Tidak didaur ulang jadi solusi. Tidak diproses jadi kebijakan. Hanya ditimbun, sampai bau busuknya tercium ke publik lagi.

CKS Hanya Jadi Kertas Pajangan"
NUKS CKS Periode I 2017 dan Periode II 2024 itu sertifikat negara. Artinya guru sudah diuji, dilatih, dinyatakan layak pimpin sekolah. Tapi di Makassar, CKS cuma jadi hiasan dinding. Negara sibuk mencetak calon, tapi pelit melantik pemimpin. Lulus ujian tapi gagal dapat kepastian. Itu bukan pendidikan, itu pembodohan sistemik.

Politik Jabatan Jalan Terus, Mutu Jalan di  Tempat 
Tiap ada Kepsek pensiun, Dinas Pendidikan rajin gelar rotasi. Tiap ada sekolah kosong, buru-buru tunjuk PLT. Politik jabatan lancar. Tapi peningkatan mutu pendidikan macet. Karena PLT sibuk mengamankan posisi, bukan membangun sekolah. Rotasi jadi tujuan, bukan alat. Akibatnya: kursi muter, anak tetap di situ-situ saja.

 Jawaban “Di Atas Sana”: Dalih Pejabat Cuci Tangan" 
Lirik “Salah siapa ini dosa siapa” dari Tommy J. Pisa dan Ebiet G. Ade kini jadi tameng birokrasi. Saat ditanya kapan definitif, jawabannya: “Pasrah saja, sudah takdir”. Padahal takdir tidak bikin regulasi. Manusia yang bikin regulasi, manusia juga yang malas mengeksekusi. Melempar ke “atas sana” itu cara halus bilang: kami menyerah.

“innallaha ma'ashobirin” Dipaksa Jadi Obat Penenang*  
Ayat itu benar, Allah bersama orang sabar. Tapi sabar bukan berarti diam dibodohi. PLT sudah sabar 9 tahun sejak 2016. Sabar lihat teman sepangkat jadi definitif. Sabar tanda tangani SK tanpa kepastian karier. Kalau sabar terus dipaksa, lama-lama jadi putus asa. Negara tidak boleh menjadikan ayat sebagai selimut untuk menutup borok kebijakan.

Dosa Siapa? Dosa Kolektif Pejabat, Tagihannya Dibayar Anak" 
2016 PLT lahir karena darurat. Bisa dimaklumi, karena waktu itu Pemkot dikejar kekosongan jabatan. Tapi 2025 PLT bertahan karena abai. Itu bukan darurat lagi, itu dosa kolektif. Dosa regulasi yang kaku tapi tidak pernah diperjuangkan revisinya. Dosa eksekusi yang lemot, rapatnya rajin tapi SK definitif tak pernah lahir. Dosa politik anggaran yang lebih pilih bangun gedung megah daripada menuntaskan karier guru. Dosa BKD dan Dinas Pendidikan yang saling lempar bola saat ditanya nasib PLT. 

Paling parah: dosa ini tidak dibayar pejabat. Tagihannya lunas dibayar anak-anak Makassar. Sekolah tanpa Kepsek definitif kehilangan arah. Program 5 tahunan bubar di tengah jalan. Guru kehilangan motivasi karena atasannya sendiri tidak punya kepastian. Murid yang harusnya dapat pendidikan stabil, malah jadi korban eksperimen PLT estafet. 

Jadi kalau masih ada yang tanya “Salah siapa ini dosa siapa”, jawabannya sudah terang. Dosa ada di meja-meja kekuasaan yang sejak 2016 lebih sibuk pencitraan daripada membereskan nasib guru. Dan selama dosa itu tidak ditebus dengan keberanian melantik definitif, maka sejarah kelam PLT Makassar akan terus ditulis dengan tinta air mata anak didik.

Kotak Tuntutan : 5 Langka Pemkot Mulia Harus Selesaikan  Sekarang'

1. Audit Total Data PLT UPT SPF
Buka data transparan: berapa jumlah PLT aktif, sejak kapan menjabat, sudah lulus CKS periode berapa, usia berapa. Jangan lagi main tebak-tebakan. Data jelas, masalah kebuka.

2. Terbitkan Roadmap Definitifisasi 2025-2026
Stop jargon “akan dikaji”. Pemkot MULIA wajib buat timeline: PLT yang lolos CKS 2017 dan 2024, penuhi syarat, langsung diproses definitif. Target jelas, bukan wacana.

3. Usulkan Fleksibilitas Ambang Batas Usia ke Pusat" 
Kalau regulasi usia 56 tahun jadi algojo, Pemkot jangan diam. Ajukan dispensasi khusus untuk PLT yang sudah mengabdi >10 tahun dan lolos seleksi. Guru bukan barang kadaluarsa.

4. Hentikan Politik Estafet PLT
Larangan mutlak: tunjuk PLT baru kalau PLT lama pensiun, tapi PLT lama layak definitif. Lebih baik kosongkan sementara sambil percepat definitif, daripada melahirkan rantai PLT baru.

5. Libatkan Publik dan Guru dalam Pengawasan.
Bentuk tim pengawas independen: unsur guru, PGRI, pemerhati pendidikan. Setiap SK definitif wajib diumumkan. Biar tidak ada lagi “dosa kolektif” yang ditutup rapat-rapat di ruang AC.

Catatan akhir : Anak-anak Makassar berhak dipimpin Kepsek definitif, bukan pejabat “numpang lewat”. Kalau 2016 berani lantik di TPA Antang, 2025 Pemkot MULIA harus berani menebus dosa itu dengan SK definitif.  (Yahya )


 

27 Mei 2026

Pak Wali, Jangan Biarkan NUKS dan Pengabdian 10 Tahun mati Sia- sia' di Akhir Masa Kerja


MULIAINFON. Com. Makassar -- ada guru yang 10 tahun memimpin sekolah hanya dengan status “Pelaksana Tugas”. Tidak ada SK definitif, tidak ada kepastian. Tapi tanggung jawabnya sama persis dengan kepala sekolah definitif. Usianya sekarang 56 tahun ke atas. Tinggal hitungan tahun menuju pensiun. Selama satu dekade, merekalah yang menjaga sekolah tetap hidup.

Setiap hari mereka menjalani beban ganda yang tidak masuk akal. Pagi urus administrasi dan rapat guru di sekolah tempat jadi PLT. Siang sampai sore harus kembali mengajar di sekolah asal. Jaraknya 15 sampai 25 km. Macet, panas, bensin pribadi. Tidak ada kendaraan dinas, tidak ada tunjangan jabatan penuh. Tapi sekolah tetap jalan karena mereka tidak pernah absen.

Semua ini dilakukan sambil memenuhi syarat yang diminta negara. Mereka sudah punya NUKS, lulus sertifikasi kepala sekolah, ikut diklat kepemimpinan yang biayanya dan waktunya tidak sedikit. Negara yang minta, negara yang melatih, negara yang mengakui mereka layak pimpin. Sekarang, ketika usia sudah tidak muda lagi, pengakuan itu mau dicabut begitu saja.

Lalu menjelang pensiun, kebijakan turun begitu saja: kembali jadi guru biasa. NUKS yang sudah dikantongi tidak berlaku lagi. Sertifikasi kepsek yang susah payah dilalui tidak terpakai. Diklat kepemimpinan yang menghabiskan waktu dan tenaga dianggap tidak pernah ada. Semua pengorbanan dihapus dalam satu SK mutasi.

Ini bukan sekadar penurunan jabatan. Ini pembatalan identitas. Orang yang sudah dilatih, diuji, dan terbukti mampu memimpin puluhan sekolah, tiba-tiba dianggap tidak layak lagi memimpin. Di mata sistem, 10 tahun kerja keras mereka tidak punya nilai. Seolah-olah semua rapat, semua masalah, semua laporan yang mereka selesaikan malam-malam itu fiktif. Harga diri dipangkas tepat saat tenaga sudah mulai habis.

Pak Wali, mohon izin menyampaikan pertimbangan. Jika seorang guru telah memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan negara, termasuk memiliki NUKS dan sertifikat kepala sekolah, kiranya akan lebih bijak jika pengakuan tersebut dapat dijaga hingga masa pengabdian berakhir. Harapannya, kebijakan yang diambil dapat menjaga kepercayaan para guru terhadap sistem yang telah mereka ikuti dengan sungguh-sungguh.

Di usia 56+, memimpin dua sekolah saja sudah menguras tenaga. Bangun jam 5 pagi, pulang sore, malamnya masih urus administrasi. Memaksa mereka kembali mengajar penuh 24 jam mengajar di kelas adalah hukuman, bukan penghargaan. Energi yang tersisa seharusnya dipakai untuk menyelesaikan pengabdian dengan tenang. Jangan paksa orang yang tinggal menghitung tahun pensiun untuk memulai ulang dari nol.

Dampaknya tidak berhenti pada guru. Sekolah kehilangan arah saat kepemimpinan diganti mendadak. Program yang sudah berjalan setahun berhenti di tengah jalan. Guru bingung, staf TU bingung, orang tua murid mulai bertanya. Hubungan yang dibangun 10 tahun dengan komite dan warga sekitar putus begitu saja. Yang menanggung akibatnya tetap anak-anak. Mereka butuh stabilitas, bukan pergantian pimpinan tiap menjelang pensiun.

Kalau kebijakan ini tetap dipaksakan, pesan yang sampai ke lapangan jelas dan telak: jangan mau jadi PLT. Kerja berat, tanggung jawab penuh, disalahkan kalau ada masalah, tapi status tetap sementara. Ujungnya dipermalukan dan dikembalikan ke kelas seperti tidak pernah memimpin. Siapa guru waras yang mau masuk jebakan seperti ini? Hasilnya, sekolah di pinggiran makin sulit dapat calon PLT.

Akibatnya sudah terlihat nyata. Banyak guru muda menolak jadi PLT karena takut nasibnya sama. Beberapa sekolah di kota ini mulai kosong pimpinan definitif maupun PLT yang mau bertahan. Kekosongan ini tidak bisa ditutup dengan rapat dan surat edaran. Ujungnya yang disalahkan tetap guru, padahal sistemnya yang gagal menghargai orang yang sudah mau jalan di tengah kegelapan.

Padahal aturan ASN memberi ruang untuk afirmasi. Usia, masa kerja, pengabdian, dan kebutuhan organisasi bisa jadi dasar kebijakan. PP ASN tidak kaku, yang kaku adalah cara menafsirkannya di dinas. Banyak daerah sudah pakai pasal afirmasi untuk mempertahankan tenaga berpengalaman sampai pensiun. Tinggal keberanian untuk menggunakan ruang itu. Kalau tidak dipakai sekarang, kapan lagi? Menunggu mereka pensiun dengan kecewa bukan kebijakan, itu pengabaian terhadap orang yang sudah menjaga sekolah tetap hidup selama 10 tahun.

Kota lain sudah bergerak. Makassar tidak boleh kalah cepat. Diam berarti memilih membiarkan puluhan sekolah kehilangan pemimpin yang sudah berpengalaman. Sementara itu, anak-anak tetap butuh seseorang yang tahu medan dan sudah dipercaya warga sekolah.

Yang diminta bukan keistimewaan, bukan perlakuan khusus yang melanggar aturan. Hanya kepastian agar mereka bisa menyelesaikan masa pengabdian di jabatan yang sudah dijalani selama 10 tahun. Tidak ada tuntutan naik pangkat, tidak ada tuntutan tunjangan tambahan. Cukup beri ruang agar pengabdian itu selesai dengan terhormat, sesuai amanah yang sudah diberikan negara sejak awal.

Jangan biarkan investasi SDM yang sudah dibentuk negara mati sia-sia. NUKS, sertifikasi, diklat kepsek bukan hiasan di atas meja. Itu bukti kompetensi, bukti bahwa negara pernah menyatakan mereka layak memimpin. Membuangnya di ujung masa kerja berarti membuang uang, waktu, dan tenaga negara sendiri. Akan lebih bijak jika kompetensi itu dijaga dan dimanfaatkan sampai hari terakhir mereka bertugas.

Pak Wali, sejarah tidak akan mencatat seberapa ketat aturan yang Bapak jalankan di atas kertas. Sejarah akan mencatat apakah Bapak memilih manusia atau memilih administrasi. Di tangan Bapak ada kesempatan untuk memberi keadilan kecil yang dampaknya besar bagi puluhan sekolah, ribuan anak, dan puluhan guru yang sudah menghabiskan usia produktifnya untuk menjaga pendidikan tetap berjalan. Keputusan Bapak hari ini akan dikenang sebagai contoh apakah Makassar menghargai pengabdian atau membiarkannya pudar di ujung jalan. Jadi, kebijakan apa yang akan Bapak ambil untuk PLT 56+ tahun ini? ( Yahya )


26 Mei 2026

Cinta Budaya, Cinta Indonesia: Sambutan Gelar Karya P5 SMPN 22 Makassar 25 Mei 2026


MULIAINFO. Com. Makassar -- Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena pada hari Minggu, 25 Mei 2026, kegiatan Gelar Karya P5 dengan tema "Aku Cinta Indonesia" ini dapat terlaksana dengan lancar di SMPN 22 Makassar di bawah kepemimpinan Ibu Hj. Salma, S.Pd dalam keadaan aman dan penuh semangat kebersamaan.

Tema kita hari ini sangat membanggakan, yaitu "Aku Cinta Indonesia". Cinta tanah air tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus ditunjukkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan melestarikan budaya daerah kita tercinta, Sulawesi Selatan. Melalui Gelar Karya P5 ini, kita ingin menanamkan rasa bangga dan cinta pada generasi muda agar mereka tumbuh menjadi anak bangsa yang berkarakter dan tidak melupakan akar budayanya.

Anak-anakku sekalian, kalian hari ini bukan hanya tampil di atas panggung. Kalian sedang menjadi duta kecil yang memperkenalkan kekayaan budaya Sulsel kepada seluruh warga sekolah. Lihatlah, betapa anggunnya para siswi kita yang memakai baju adat Toraja warna merah. Warna merah itu bukan sekadar indah, tapi juga melambangkan keberanian dan semangat hidup orang Toraja.

Melalui proyek P5 ini, kalian belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka di rapor. Pendidikan sejati adalah ketika kalian mengenal jati diri bangsa, menghargai perbedaan, dan bangga menjadi bagian dari Indonesia yang beragam.


Saya melihat sendiri kerja keras kalian bersama para guru pembimbing selama berminggu-minggu. Dari latihan menari di bawah terik matahari, membuat properti dari bahan sederhana, hingga berlatih menyanyi lagu daerah. Semua itu adalah proses pembentukan karakter yang luar biasa.
 
Kepada Ibu Hj. Salma, S.Pd selaku Kepala SMPN 22 Makassar, dan seluruh bapak ibu guru hebat, terima kasih atas dedikasi dan kesabarannya. Kalian tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi, mengarahkan, dan menumbuhkan rasa cinta budaya pada anak-anak kita. Berkat bimbingan kalian, panggung ini bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.
  
Kepada orang tua dan tamu undangan yang hadir, terima kasih atas dukungan dan kepercayaannya. Kehadiran bapak ibu adalah semangat terbesar bagi anak-anak kami untuk tampil maksimal hari ini. Semoga kolaborasi antara sekolah dan keluarga ini terus terjaga, karena pendidikan anak tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan di rumah.

Melalui acara ini, saya berharap kita semua semakin menyadari bahwa budaya lokal adalah akar dari kekuatan bangsa. Jika akar itu kuat, maka pohon Indonesia akan tumbuh kokoh menghadapi zaman apa pun. Mari jadikan Gelar Karya P5 ini bukan hanya pertunjukan sekali saja, tetapi awal dari gerakan untuk terus mencintai, mempelajari, dan melestarikan budaya kita di kehidupan sehari-hari.

Jangan pernah merasa malu dengan budaya sendiri. Justru berbanggalah. Di saat dunia semakin modern, justru identitas yang membuat kita unik dan dihormati. Budaya Toraja, Bugis, Makassar, dan seluruh Nusantara adalah jati diri kita. Jagalah, pelajari, dan ceritakan kepada dunia agar tidak punah ditelan zaman. Jadilah generasi yang modern tanpa kehilangan akar.

Saya berpesan kepada seluruh siswa SMPN 22 Makassar, teruslah belajar, berkarya, dan menjaga nama baik sekolah. Jadikan hari ini sebagai awal untuk lebih mencintai Indonesia, dimulai dari mencintai Makassar, mencintai Sulsel, dan mencintai budaya kalian sendiri.

Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya nyatakan Gelar Karya P5 SMPN 22 Makassar dengan tema "Aku Cinta Indonesia" resmi dibuka. Semoga acara ini berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi kita semua. Terima kasih. ( Yahya )