12 September 2026

Keluarga Besar UPT SPF SD Inpres Antang II Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Bersama Ust.M.Algasali Amin, S.S, Gr


MULIANFO -- MAKASSAR -- Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, islam, dan kesempatan untuk berkumpul dalam acara yang penuh berkah ini.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, suri teladan umat manusia yang membawa risalah rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru dunia.

Hari ini kita bersama-sama memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, momentum penting untuk mengingat kembali kelahiran, perjuangan, dan akhlak mulia beliau yang menjadi cahaya bagi kehidupan kita.

Kegiatan ini terselenggara atas inisiatif Keluarga Besar UPT SPF SD Inpres Antang II dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar.

Kami menghadirkan penceramah yang insyaAllah dapat memberikan ilmu dan motivasi, yaitu "Ust. M. Algasali Amin, S.S., Gr." Beliau akan menyampaikan tausiyah tentang teladan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Maulid bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah pengingat bagi kita untuk meneladani sifat jujur, amanah, tabligh, dan fathanah yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Melalui peringatan ini, kita ingin menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini kepada anak-anak didik kami di SD Inpres Antang II agar tumbuh menjadi generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.


Di tengah tantangan zaman, keteladanan Nabi menjadi kompas bagi keluarga dan sekolah dalam mendidik anak. Pendidikan karakter harus dimulai dari rumah, dilanjutkan di sekolah, dan dikuatkan di masyarakat.

Dengan hadirnya Bapak/Ibu dalam acara ini, kita menunjukkan kepedulian bersama terhadap pembinaan spiritual anak-anak. Kehadiran Bapak/Ibu adalah dukungan nyata bagi sekolah.

Mari kita jadikan Maulid Nabi sebagai titik tolak untuk memperbaiki diri, memperbanyak shalawat, mempererat ukhuwah, dan meningkatkan kepedulian sosial di lingkungan kita.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan siswa kepada Nabi Muhammad SAW melalui lantunan shalawat, kisah teladan, dan diskusi nilai-nilai kebaikan.

Kami percaya bahwa sekolah yang baik bukan hanya mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga siswa yang memiliki budi pekerti luhur dan semangat gotong royong.

Atas nama Keluarga Besar UPT SPF SD Inpres Antang II, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua.

Akhir kata, kami mengucapkan "Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW". Semoga dengan berkumpulnya kita di majelis ini, Allah SWT melimpahkan keberkahan, rahmat, dan ridha-Nya kepada kita semua. Aamiin.




UPTD SPF SD Inpres Batu I Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW Dengan Tema "Meneladani Akhlak Nabi Dalam Membetuk Generasi Berkarakter "


MULIAINFO -- MAKASSAR — UPTD SPF SD Inpres Batua I memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dengan khusyuk pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh keluarga besar sekolah, mulai dari kepala sekolah, dewan guru, staf, peserta didik, hingga orang tua siswa.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat yang menggema di halaman sekolah. Dalam suasana penuh haru, seluruh hadirin memanjatkan syukur ke hadirat Allah SWT karena masih diberi kesehatan untuk berkumpul dalam kegiatan keagamaan yang mulia ini.

Kepala UPTD SPF SD Inpres Batua I, "MaMuddin, S.Pd", dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan hanya seremonial tahunan. "Ini adalah momentum kita untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat," ujarnya.

Tahun ini, pihak sekolah mengangkat tema "Meneladani Akhlak Nabi Dalam Membentuk Generasi Berkarakter". Tema tersebut dipilih agar selaras dengan visi sekolah dalam melahirkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Menurut MaMuddin, penanaman nilai-nilai kejujuran, disiplin, kasih sayang, dan tolong menolong harus dimulai sejak dini. "Rasulullah sejak kecil sudah dikenal dengan gelar Al-Amin karena kejujurannya. Nilai inilah yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak kita," jelasnya.

Rangkaian kegiatan diisi dengan ceramah agama, pembacaan shalawat, lantunan nasyid oleh siswa, serta santunan kepada anak yatim. Tujuannya untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi dan memperkuat iman serta takwa seluruh warga sekolah.


Kepala sekolah juga memberikan apresiasi kepada panitia, dewan guru, dan orang tua yang telah bekerja sama dan bergotong royong menyukseskan acara. "Tanpa dukungan semua pihak, kegiatan ini tidak akan berjalan dengan lancar," ungkapnya.

Dalam pesannya kepada peserta didik, MaMuddin berpesan agar menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan dalam belajar, bertutur kata, dan menghormati guru serta orang tua. "Karena kesuksesan dunia dan akhirat dimulai dari akhlak yang baik," pesannya.

Beliau menekankan bahwa sekolah memiliki peran ganda, yaitu sebagai tempat transfer ilmu dan juga tempat pembentukan karakter. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama antara pihak sekolah dan orang tua di rumah.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama agar seluruh rangkaian acara diridhoi Allah SWT dan membawa keberkahan bagi keluarga besar UPTD SPF SD Inpres Batua I. Harapannya, melalui peringatan ini, syafa’at Rasulullah SAW dapat menyertai kita semua di yaumil akhir nanti. Aamiin.

Peringatan Maulid Nabi di UPTD SPF SD Inpres Batua I ini diharapkan menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter adalah fondasi utama dalam membangun generasi emas yang berakhlak Qur’ani.


11 September 2026

Tuntas Benahi Keramik dan Cat, WC UPT SPF SD Inpres Bangkala 1 Kini Kinclong

 


MULIAINFO -- MAKASSAR – UPT SPF SD Inpres Bangkala 1 Makassar akhirnya menuntaskan pembenahan WC sekolah. Pekerjaan kali ini fokus pada dua hal utama, yaitu pemasangan keramik baru dan pengecatan ulang seluruh dinding. 

Kepala Sekolah Rizal, S.Pd menyampaikan pembenahan ini sudah lama direncanakan. Kondisi WC sebelumnya dinilai kurang layak karena keramik yang sudah kusam, retak, dan dinding yang mulai lembab. 

"Yang kami benahi keramik dan pengecatannya. Alhamdulillah sudah selesai," ujar Rizal, S.Pd, Jumat (11/9/2026). Ia menambahkan proses pengerjaan dilakukan di luar jam belajar agar kegiatan siswa tidak terganggu. 

Keramik lama yang berwarna kusam kini diganti dengan keramik baru berwarna cerah. Pemilihan keramik juga mempertimbangkan kemudahan saat dibersihkan. Tujuannya agar petugas kebersihan dan siswa lebih mudah menjaga WC tetap bersih setiap hari. 

Selain mengganti lantai, tim juga melakukan pengecatan ulang pada dinding WC. Warna putih cerah dipilih agar ruangan terkesan lebih terang, luas, dan tidak lembab. Dampaknya langsung terasa oleh siswa. 

"Anak-anak sekarang lebih nyaman dan tidak takut lagi ke WC," kata Rizal. Menurutnya, rasa nyaman saat ke kamar mandi juga berpengaruh pada semangat belajar siswa di kelas. 


Anggaran pembenahan berasal dari dana pemeliharaan BOSP tahun ini. Rizal menegaskan pengelolaan dilakukan secara transparan dan efisien. Setiap pembelian material dicatat dan dilaporkan ke komite sekolah. 

"Sanitasi adalah wajah sekolah. Kalau WC bersih, berarti sekolah sehat," tegas Rizal. Ia berharap pembenahan kecil ini bisa menjadi contoh bahwa fasilitas sederhana pun bisa berdampak besar. 

Pantauan di lapangan menunjukkan perubahan yang signifikan. Lantai WC kini kinclong dengan keramik baru. Dinding putih bersih, ventilasi lebih lega, dan saluran air juga sudah diperbaiki agar tidak mampet. 

Siswa menyambut baik perubahan ini. "Sekarang bagus, kinclong. Keramiknya baru," kata salah satu siswi kelas 5. Orang tua murid pun mengapresiasi langkah cepat pihak sekolah. "Detail kecil seperti keramik dan cat diperhatikan. Ini bukti kepsek peduli," ujar seorang wali murid. 

Ke depan, sekolah bersama komite sepakat membuat jadwal piket kebersihan WC. Rizal juga berencana melanjutkan pembenahan ke taman sekolah dan tempat cuci tangan. "Fasilitas sudah kami benahi, mari jaga bersama," tutupnya.


Berita Sorot Langgar 4 Ketentuan Dinas, Bimtek TKA Makassar Diduga Pungut 3,5 Juta/ Guru Lewat Dana BOS


MULIAINFO -- MAKASSAR -- Kegiatan Bimbingan Teknis Tes Kemampuan Akademik / TKA se-Kota Makassar yang dijadwalkan 10-12 September 2026 di Hotel Mercure Nexa Jl. Andi Pettarani kini jadi sorotan. Banyak guru resah karena diminta setor dana besar padahal kegiatan disebut "didukung Dinas".  

Berdasarkan informasi dari lapangan, panitia meminta setiap guru dan kepala sekolah yang ikut mentransfer Rp3,5 juta per orang. Angka itu disampaikan secara seragam ke sekolah-sekolah di tingkat kecamatan.  

Yang lebih mengkhawatirkan, dana Rp3,5 juta itu disebut harus diambil dari Dana BOS sekolah. Artinya beban keuangan sekolah langsung terkuras hanya untuk 1 kegiatan 3 hari.  

Padahal Dinas Pendidikan Kota Makassar sudah mengeluarkan surat resmi Nomor: 400.3.5/392/Disdik/VIII/2026 tertanggal 31 Agustus 2026. Surat itu jelas mengatur batasan agar guru tidak dirugikan.  

Surat tersebut merupakan jawaban atas permohonan Lembaga Fasilitasi Management Pemerintahan Daerah Nomor 5298/SPPK/LPMPD/BT/VIII/2026 tanggal 5 Agustus 2026 tentang permohonan pelaksanaan Bimtek TKA dan Penguatan Karakter Anti Korupsi.  

Dalam surat permohonan itu disebutkan peserta kegiatan adalah kepala sekolah dan guru jenjang SD dan SMP Negeri-Swasta se-Kota Makassar. Targetnya ribuan guru, sehingga potensi dana yang terkumpul mencapai miliaran rupiah jika semua sekolah ikut.  

Menjawab permohonan itu, Dinas Pendidikan Makassar menyatakan "mendukung pada prinsipnya". Namun dukungan itu tidak gratis. Dinas langsung mengikat penyelenggara dengan 4 ketentuan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.  

Ketentuan 1: Penyelenggara wajib melakukan koordinasi dengan kepala sekolah terkait pelaksanaan kegiatan. Tujuannya agar kepsek tahu detail kegiatan, jadwal, dan dampaknya ke sekolah, bukan tiba-tiba diminta transfer.  

Ketentuan 2: Penyelenggara harus mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Termasuk aturan penggunaan Dana BOS, aturan pengadaan, dan aturan pungutan di satuan pendidikan.  

Ketentuan 3: Dilarang membebankan biaya terhadap guru di luar ketentuan yang telah ditetapkan. Kalimat ini paling tegas. Artinya kegiatan harusnya gratis atau biayanya bukan dari kantong guru/BOS.  

Ketentuan 4: Penyelenggara wajib menjaga kondisi kondusif di lingkungan sekolah. Artinya kegiatan tidak boleh membuat guru resah, tidak boleh memaksa, dan tidak boleh mengganggu jam belajar siswa. Iklim sekolah harus tetap aman dan tertib.  

Namun fakta di lapangan justru bertolak belakang. Alih-alih gratis, panitia malah menarik pungutan Rp3,5 juta per orang. Ini jelas menabrak ketentuan 3 yang melarang pembebanan biaya ke guru.  

Dalih "ambilkan dari Dana BOS" membuat pelanggaran makin berlapis. Sebab BOS bukan untuk membayar kegiatan lembaga luar, apalagi dengan nilai fantastis tanpa dasar hukum jelas.  

Dana BOS diatur dalam Permendikbud dan Juknis BOS. Dana itu hanya boleh dipakai untuk operasional sekolah, pembelian buku, kegiatan KBM, dan program yang sudah masuk RKAS serta disetujui pengawas.  

Tidak ada satu pasal pun yang membolehkan BOS dipakai untuk membayar bimtek lembaga luar senilai Rp3,5 juta per peserta. Jika dipaksakan, maka bendahara BOS dan kepsek yang tanda tangan bisa kena sanksi administratif hingga pidana.  

Hitung-hitungan sederhananya: jika 1 sekolah punya 10 guru, maka dana BOS yang terkuras Rp35 juta. Jika 100 sekolah ikut, maka potensi dana BOS yang keluar Rp3,5 miliar hanya untuk 3 hari kegiatan di hotel.  

Angka sebesar itu sangat rawan jadi temuan. BPKP, Inspektorat Kota, hingga Kemendikdasmen pasti akan mempertanyakan legalitas penggunaan BOS untuk kegiatan ini. Apalagi tidak ada RAB, MoU, dan output yang jelas dari penyelenggara.  

Selain melanggar aturan BOS, pungutan ini juga jelas melanggar poin 3 surat Dinas. Artinya penyelenggara tidak mematuhi syarat yang mereka sendiri terima. Ini bisa jadi dasar pembatalan kegiatan.  

Dampaknya ke sekolah juga nyata. Dana yang seharusnya untuk ATK, listrik, dan kegiatan siswa jadi tersedot. Kondisi ini jelas mengganggu poin 4 tentang "menjaga kondisi kondusif sekolah". Guru jadi fokus cari dana, bukan mengajar.  

Sejumlah guru mengaku tertekan dan merasa "wajib ikut". Ada yang bilang kalau tidak ikut nanti sekolahnya "tidak didukung Dinas". Padahal di surat tidak ada kata "wajib". Ini bentuk intimidasi halus yang meresahkan.  

Untuk membongkar aliran dana, sejumlah pihak di kecamatan kini meminta semua sekolah yang sudah mendaftar segera menyerahkan print out bukti transfer ke panitia. Data ini penting untuk pemetaan.  

Tujuannya satu: audit internal. Memastikan berapa sekolah yang sudah TF, berapa total dana BOS yang keluar, dan kemana uang itu mengalir. Transparansi adalah kunci agar tidak ada yang ditutup-tutupi.  

Hingga berita ini naik, pihak penyelenggara belum memberikan klarifikasi resmi. Konfirmasi ke nomor kontak panitia juga belum mendapat jawaban. Dinas pun belum mengeluarkan sikap tegas terkait pelanggaran ini.  

Publik pendidikan Kota Makassar mendesak Kepala Dinas segera turun tangan. Evaluasi, hentikan pungutan, dan beri sanksi jika terbukti melanggar. 4 ketentuan dalam surat harus ditegakkan, agar guru tidak lagi jadi korban atas nama "bimtek yang didukung Dinas".  



 

Penanaman Karakter Mental Keagamaan Melalui Kegiatan Tadarus Al-Qur'an Setia Hari Jumat Di UPTD SPF SD Negeri Bontoa


MULIAINFO -- MAKASSAR -- Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Amrin, S.Pd, UPTD SPF SD Negeri Bontoa terus berkomitmen dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu program unggulan yang dilaksanakan secara rutin adalah pengembangan karakter mental keagamaan.

Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat setiap pekan. Menurut Amrin, S.Pd
 pemilihan hari Jumat didasarkan pada keutamaan hari tersebut dalam ajaran agama Islam sebagai hari yang penuh berkah untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pelaksanaan Shalat Dhuha berjamaah di lapangan atau mushalla sekolah. Seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik mengikuti shalat secara khusyuk dan tertib di bawah koordinasi "Amrin, S.Pd".

Setelah selesai melaksanakan Shalat Dhuha, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an bersama. Tadarus menjadi inti dari pembinaan mental keagamaan yang bertujuan untuk membiasakan peserta didik membaca, memahami, dan mencintai Al-Qur’an sejak usia dini.

Kegiatan tadarus diikuti oleh seluruh peserta didik mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Kepala Sekolah Amrin, S.Pd menegaskan bahwa pembinaan keagamaan diberikan secara merata agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama dalam menanamkan nilai-nilai religius.

Untuk menjaga kekhusyukan dan keteraturan, peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai kelas. Setiap kelompok dipandu dan dibimbing langsung oleh Guru Agama UPTD SPF SD Negeri Bontoa agar bacaan Al-Qur’an menjadi lebih tartil dan benar sesuai tajwid.


Guru Agama tidak hanya bertugas membimbing bacaan, tetapi juga memberikan motivasi dan nasihat singkat. Hal ini sejalan dengan arahan Amrin, S.Pd agar tadarus tidak hanya menjadi rutinitas membaca, tetapi juga sarana pembelajaran akhlak.

Melalui kegiatan ini, peserta didik dilatih untuk memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebiasaan positif. Mereka belajar datang tepat waktu, menyiapkan diri sebelum shalat, membawa Al-Qur’an, dan duduk dengan adab saat mengaji.

Dampak dari kegiatan rutin ini sudah mulai terlihat. Kepala Sekolah Amrin S.Pd menyampaikan bahwa peserta didik menjadi lebih tenang, sopan dalam bertutur kata, saling menghargai teman, dan memiliki semangat untuk beribadah. Orang tua juga memberikan dukungan penuh.

UPTD SPF SD Negeri Bontoa meyakini bahwa penguatan karakter tidak bisa hanya dilakukan di dalam kelas melalui pelajaran. Amrin, S.Pd  menekankan bahwa pembiasaan melalui kegiatan keagamaan seperti ini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang cerdas, beriman, dan berkarakter.
 
Ke depan, di bawah arahan "Kepala Sekolah Amrin, S.Pd", pihak sekolah akan terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan ini. Harapannya, pembiasaan tadarus dan Shalat Dhuha setiap hari Jumat dapat terus berjalan istiqamah dan menjadi budaya sekolah yang menginspirasi sekolah lain.




09 September 2026

Pak Wali Bilang Nonaktif, Kenyataannya Pimpin Bimtek: Ada Apa Dengan Muh Yunus Sanusi


MULIAINFO -- MAKASSAR -- Kepercayaan masyarakat terhadap pernyataan Wali Kota Makassar kini dipertanyakan.  
Pernyataan itu terkait status kepegawaian salah satu pejabat Disdik.  
Publik menganggap aturan dan komando pimpinan sudah ditegakkan.  
Namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.  
Kontradiksi ini menjadi bahan perbincangan luas di kalangan ASN.

Pejabat yang dimaksud adalah "Muh Yunus Sanusi".  
Ia sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang GTK Disdik Makassar.  
Jabatan GTK merupakan bidang vital yang mengurus guru dan tenaga pendidikan.  
Beberapa waktu lalu, Pak Wali mengumumkan penonaktifannya secara resmi.  
Pengumuman disampaikan melalui kanal media sosial milik Wali Kota.

Masyarakat menyambut baik pengumuman tersebut.  
Mereka menilai Pemkot Makassar konsisten menegakkan aturan.  
Kepercayaan publik tumbuh karena pimpinan berani mengambil sikap.  
Namun kepercayaan itu kini diuji oleh fakta di lapangan.  
Apakah keputusan pimpinan hanya sebatas pengumuman saja.

Kenyataannya, Muh Yunus Sanusi justru tampil dalam kegiatan resmi.  
Kegiatan itu adalah Bimtek Dinas Pendidikan Kota Makassar.  
Bimtek dilaksanakan selama 3 hari, tanggal 7-9 September 2026.  
Ia tidak hanya hadir, tetapi juga memimpin jalannya materi.  
Panggung resmi pemerintah justru diberikan kepada yang bersangkutan.

Berdasarkan dokumentasi, ia duduk di meja utama.  
Posisinya sejajar dengan Kepala Dinas dan pejabat aktif lainnya.  
Selama tiga hari ia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.  
Bahkan ia mendapat giliran untuk menyampaikan materi.  
Peran sebagai pemateri menunjukkan keterlibatan aktif dalam kegiatan.

Yang lebih menguatkan, ia mengenakan baju dinas negara lengkap.  
Atribut ASN mulai dari kemeja, dasi, hingga tanda pengenal.  
Penggunaan atribut itu seharusnya hanya untuk ASN yang aktif.  
Ini menjadi bukti visual yang tidak bisa dibantah.  
Publik pun bertanya, atas dasar apa ia masih menggunakan atribut.

Pertanyaan besar pun muncul: Ada apa sebenarnya.  
Jika sudah nonaktif, mengapa masih diberi ruang memimpin.  
Jika sudah dinonaktifkan, mengapa masih diberi honor.  
Siapa yang mengusulkan dan siapa yang menyetujui penugasannya.  
Ketiadaan jawaban membuat spekulasi semakin liar.

Secara aturan, hal ini sangat jelas.  
*PP Nomor 17 Tahun 2020 tentang Manajemen PNS* melarang.  
PNS yang nonaktif dilarang menjalankan tugas kedinasan.  
Termasuk menjadi narasumber atau pemateri kegiatan resmi.  
Pelanggaran terhadap aturan ini berisiko sanksi administratif.

Selain itu ada *PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS*.  
Aturan itu mengatur penggunaan atribut dan identitas jabatan.  
Hanya ASN aktif yang berhak menggunakan atribut dinas.  
Jika dilanggar dapat dikenai hukuman disiplin.  
Mulai dari teguran lisan sampai pemberhentian.

Kegiatan ini menggunakan anggaran APBD Kota Makassar.  
Sumber dananya berasal dari uang pajak rakyat.  
Mulai dari sewa hotel, konsumsi, hingga honor narasumber.  
Prinsip efisiensi dan akuntabilitas wajib ditegakkan.  
Agar tidak menjadi temuan oleh BPK atau Inspektorat.

Peserta kegiatan adalah ratusan kepala sekolah SD-SMP.  
Mereka datang dari 15 kecamatan se-Kota Makassar.  
Tujuan mereka jelas, untuk meningkatkan kompetensi dan mutu.  
Namun fokus mereka teralihkan oleh polemik status pemateri.  
Efektivitas bimtek yang mahal pun menjadi sia-sia.


Sejumlah peserta menyampaikan kekecewaan secara tertutup.  
Mereka mempertanyakan konsistensi kebijakan di internal Pemkot.  
"Masyarakat sudah percaya sama Pak Wali. Kok bisa masih mimpin,"  
"Ini pakai baju dinas lagi. Ada apa sebenarnya," ujar peserta.  
Pernyataan ini mencerminkan kebingungan di tingkat bawah.

Kekecewaan semakin besar karena beredar isu lain.  
Isu itu menyebut "Diduga sudah masuk angin".  
Belum ada hasil dari Inspektorat dan Kejari.  
Namun kegiatan tetap berjalan seolah tidak ada masalah.  
Hal ini mencederai semangat reformasi birokrasi.

Beredar informasi yang bersangkutan masih dalam proses hukum.  
Proses itu berjalan di Kejari Makassar.  
Kaitannya dengan pelaksanaan tugas di Bidang GTK.  
Hingga kini statusnya masih dalam tahap penyelidikan.  
Belum ada penetapan tersangka dalam kasus tersebut.

Status hukum ini seharusnya menjadi pertimbangan.  
Terlebih forum yang diikuti adalah pembinaan ASN.  
Forum resmi harus steril dari konflik kepentingan.  
Agar peserta dapat belajar dengan tenang.  
Dan tidak memberi contoh buruk kepada bawahan.

Forum pembinaan seharusnya menjadi ruang teladan.  
Tempat menguatkan integritas dan kapasitas ASN.  
Bukan tempat yang menimbulkan tanda tanya baru.  
Jika di tingkat dinas saja aturan dilanggar.  
Bagaimana kepala sekolah bisa menertibkan guru di sekolah.

Wibawa pernyataan Pak Wali kini dipertaruhkan.  
Pengumuman pejabat publik adalah komando yang mengikat.  
Jika tidak ditindaklanjuti, maka akan jadi preseden buruk.  
ASN akan bingung harus ikut aturan atau ikut praktik.  
Kepercayaan masyarakat bisa runtuh karena inkonsistensi.

Publik berhak mendapatkan kepastian dan kejelasan.  
Siapa yang bertanggungjawab atas penugasan ini.  
Apakah panitia tidak tahu atau sengaja membiarkan.  
Apakah ada intervensi dari pihak tertentu.  
Semua pertanyaan ini butuh jawaban resmi.

BKPSDM sebagai pembina kepegawaian harus bersuara.  
Inspektorat sebagai pengawas internal juga harus turun.  
Disdik sebagai penyelenggara harus memberikan penjelasan.  
Jangan sampai pembiaran ini dianggap hal biasa.  
Karena dampaknya luas terhadap birokrasi.

Penegakan aturan harus dimulai dari internal pemerintah.  
Jika aturan dilanggar oleh penyelenggara, siapa yang mau percaya.  
Mutu pendidikan Kota Makassar taruhannya.  
Jangan sampai anggaran besar hanya untuk formalitas.  
Sedangkan substansi dan keteladanan diabaikan.

Masyarakat Makassar cerdas dan memantau.  
Mereka bisa membedakan mana pernyataan dan mana tindakan.  
Ketika keduanya bertolak belakang, maka kepercayaan luntur.  
Pemkot harus hadir untuk meluruskan keadaan.  
Agar tidak menjadi bola liar di masyarakat.

Hingga berita ini tayang, klarifikasi belum diterima.  
Redaksi telah berupaya menghubungi Disdik, BKPSDM, Inspektorat.  
Namun belum ada pihak yang memberikan keterangan resmi.  
Padahal hak jawab adalah bagian dari jurnalisme berimbang.  
Ruang klarifikasi tetap kami buka untuk semua pihak.

Publik kini menunggu langkah konkret dari Pemkot.  
Apakah akan ada evaluasi terhadap panitia penyelenggara.  
Apakah akan ada sanksi bagi yang melanggar aturan.  
Atau apakah akan ada pembiaran seperti isu yang beredar.  
Sikap tegas sangat dibutuhkan saat ini.

Pendidikan adalah fondasi masa depan Kota Makassar.  
Ia tidak boleh dikotori oleh persoalan administrasi.  
Kepala sekolah butuh pembinaan yang bersih dan berwibawa.  
Bukan pembinaan yang menimbulkan polemik.  
Agar mutu pendidikan benar-benar bisa tercapai.

Kesimpulannya, ada jurang antara kata dan perbuatan.  
Pak Wali bilang "Nonaktif", tapi kenyataan "Pimpin Bimtek".  
Tanggal 7-9 September 2026 menjadi bukti nyata.  
Apalagi ditambah penggunaan baju dinas negara.  
Publik bertanya: Ada apa? Dan siapa yang harus bertanggungjawab.

 

08 September 2026

Mantan Kabid GTK Nonaktif Masih Jadi Pamateri Bimtek, Disdik Makassar Didesak Klarifikasi


MULIAINFO -MAKASSAR, - SOROT – Dinas Pendidikan Kota Makassar disorot setelah menghadirkan pemateri berstatus nonaktif dalam kegiatan resmi pembinaan kepala sekolah.

Pemateri tersebut adalah "Muh Yunus Sanusi", mantan Kepala Bidang GTK. Ia tampil selama dua hari, 7-8 September 2026, dalam kegiatan _"Bimtek Pengembangan Kompetensi Kepala Sekolah SD dan SMP se-Kota Makassar"

Berdasarkan dokumentasi yang diterima redaksi, yang bersangkutan duduk di meja utama bersama pejabat aktif. Ia juga menyampaikan materi dan mengenakan atribut dinas ASN lengkap.

Kehadiran itu dinilai janggal karena beberapa waktu lalu Wali Kota Makassar telah mengumumkan penonaktifannya melalui akun media sosial resmi. Hingga berita ini ditulis, redaksi belum menerima salinan fisik SK. Namun pengumuman di kanal resmi tersebut telah diketahui luas oleh ASN.

Selain soal status, beredar informasi bahwa nama Muh Yunus Sanusi masih dalam proses penyelidikan Kejari Makassar. Proses itu terkait kewenangan di Bidang GTK saat menjabat.

Sejumlah peserta mengaku bingung dengan kehadiran tersebut. "Pengumuman di medsos sudah ada. Kami bingung dasar penugasannya apa," ujar salah satu kepala sekolah yang enggan disebut namanya.

Forum bimtek seharusnya menjadi ruang pembinaan dan teladan bagi ASN. Dengan anggaran APBD dan peserta ratusan kepala sekolah, kegiatan ini seharusnya steril dari persoalan administrasi kepegawaian.

Secara aturan, PNS yang diberhentikan sementara dilarang menjalankan tugas kedinasan. Hal itu diatur dalam "PP Nomor 17 Tahun 2020 tentang Manajemen PNS". 

Selain itu, PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS juga melarang penggunaan atribut jabatan oleh yang tidak berwenang.

Penggunaan anggaran negara dan wibawa kebijakan pimpinan menjadi catatan penting dalam kasus ini. Publik mempertanyakan siapa yang mengusulkan dan menyetujui penugasan pemateri tersebut.

Ketidakjelasan ini berpotensi menimbulkan kegaduhan di internal ASN. Terlebih peserta adalah kepala sekolah yang merupakan ujung tombak pendidikan di Kota Makassar.

Hingga berita ini tayang, Dinas Pendidikan, BKPSDM, dan Inspektorat Kota Makassar belum memberikan klarifikasi resmi. Redaksi telah berupaya melakukan konfirmasi.

Publik kini menunggu langkah Pemkot Makassar. Agar wibawa pengumuman pejabat publik dan kepastian hukum di lingkungan ASN tetap terjaga, serta aturan ditegakkan secara konsisten.