03 Juni 2026

Pelantikan Kepsek Makassar : Lulus Ukom + Wawancara 2025, Gugur Karena SK Telat


MULIAINFO. Com. Makassar -- Pelantikan/pengukuhan Kepala Sekolah definitif di Makassar tahun 2025/2026 seharusnya jadi stempel akhir: "Kompeten, layak memimpin". Kenyataannya SK berbalik fungsi jadi pisau pemenggal karier. Puluhan pendidik senior yang nilainya lulus UKOM, lulus wawancara, gugur seketika bukan karena otak tumpul. Mereka gugur karena SK definitif Pemkot Makassar sengaja atau lalai dilambatkan 2-3 tahun. Kompetensi dikalahkan kalender. Prestasi dibunuh birokrasi.

Faktanya pendidik ini bukan "calon abal-abal". Mereka ikut UKOM BCKS 2025, tes CAT 180 menit 150 soal 3 ranah: Manajerial, Supervisi, Kewirausahaan-Sosial. Hasilnya: LULUS. Lalu ikut wawancara kompetensi + psikotes 2025 di hadapan asesor GTK. Hasilnya: LULUS. Sertifikat UKOM keluar. Berita acara wawancara ditandatangani. Nama masuk database calon Kepsek nasional. Artinya secara negara, mereka sudah sah "kompeten + layak memimpin". Tapi semua stempel itu tidak ada harganya saat SK definitif Pemda telat 2 tahun dan umur 56 tahun jadi algojo.

Polanya terlalu rapi untuk disebut "kebetulan". UKOM + Wawancara lulus 2025 saat umur masih 54 tahun. Lalu berkas masuk meja Pemda dan... hilang dalam antrian. SK definitif baru turun 2026 saat umur sudah 56 tahun 2 bulan. Begitu input ke sistem MOLOD, mesin otomatis menolak: "GUGUR - MELEWATI BATAS USIA". Pertanyaannya menusuk: Ini seleksi atau jebakan waktu yang didesain rapi? Luluskan dulu biar semangat, gugurkan belakangan biar tidak bisa protes.

Lambat itu Kebijakan atau Kelalaian? Keduanya Sama-sama Kriminal*  
Keterlambatan SK 2-3 tahun tidak bisa lagi dibela pakai alasan "proses". Dua kemungkinan, dua-duanya kriminal terhadap masa depan pendidik:  
*Pertama*, kalau ini kebijakan: artinya ada pihak yang sengaja menahan SK. Tujuannya apa? Mengosongkan kursi? Memberi jalan ke nama lain? Kalau benar, ini bukan administrasi, ini sabotase karier.  
*Kedua*, kalau ini kelalaian: artinya Pemda abai. Berkas menumpuk, meja pengesahan kosong, verifikasi NIP jalan di tempat. Kalau benar, ini maladministrasi berat.  
Pilih mana? Sengaja atau lalai? Keduanya menghancurkan kepercayaan pendidik ke negara.

Ketiadaan Dashboard = Ruang Gelap Tempat Dugaan Hidup Subur  
Coba buka web Pemkot Makassar sekarang. Ada tidak dashboard publik "Antrian SK Kepsek Definitif 2024-2026"? Tidak ada. Tidak ada nomor antrian, tidak ada tanggal masuk berkas, tidak ada nama pejabat yang pegang berkas. Ketiadaan data ini bukan "efisiensi", ini pembunuhan transparansi. Ruang gelap selalu melahirkan monster. Monsternya bernama dugaan. "Jangan-jangan berkas saya ditahan". "Jangan-jangan ada nama titipan". "Jangan-jangan SK sengaja dilambat supaya lewat umur". Selama dashboard tidak dibuka, maka semua dugaan itu akan hidup, tumbuh, dan mengakar jadi kebencian ke sistem.

"Nama Tiba-tiba Muncul" Bukan Halusinasi Massa, Itu Efek Sistem Bisu  
Frasa "nama tiba-tiba muncul" sering ditertawakan birokrat sebagai "teori konspirasi pendidik". Padahal itu murni logika dasar. Otak manusia benci kekosongan data. Kalau sistem MOLOD tidak menampilkan log: "Data si A diinput tanggal X oleh user Y", maka kekosongan itu akan diisi otak dengan skenario terburuk. Tiba-tiba ada nama baru di daftar pelantikan, sementara pendidik yang lulus UKOM + Wawancara 2025 masih antri. Tiba-tiba ada SK keluar, sementara berkas yang lebih dulu masuk masih "proses". Tanpa log audit yang dibuka, maka "nama tiba-tiba muncul" bukan halusinasi. Itu kesimpulan logis dari sistem yang bisu.

Luka kedua lebih dalam dan lebih personal. Pendidik PPPK ikut UKOM bayar sendiri, ikut wawancara tatap muka antri dari subuh, keluar ongkos transport, keluar cuti mengajar. Harapannya satu: dapat feedback untuk naik kelas. Yang diterima cuma satu kata di layar: "TIDAK LULUS". Titik. Tidak ada skor 65 atau 45. Tidak ada catatan "modul sosial-kultural lemah". Tidak ada rubrik wawancara. Pendidik tidak dikasih cermin untuk bercermin, tapi dikasih tembok untuk ditabrak. Negara minta profesional, tapi memperlakukan pendidik seperti robot yang cukup tahu "gagal" tanpa tahu "gagal di mana".

UU KIP Ditabrak Sepi-sepi, Atas Nama "Kerahasiaan" 
UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik pasal 11-12 jelas: informasi tentang seleksi jabatan publik wajib dibuka. Nilai UKOM + nilai wawancara = informasi pribadi peserta. Menutupnya tanpa alasan tertulis = pelanggaran hukum. Alasan "demi menjaga kerahasiaan" tidak berlaku untuk nilai pribadi sendiri. Pendidik bukan minta bocoran soal tahun depan. Pendidik cuma minta data dirinya sendiri. Menahan data pribadi orang lain tanpa izin itu namanya apa kalau bukan pelanggaran? Bungkamnya sistem sekarang sama artinya menabrak UU KIP secara sepi-sepi.

Setiap sistem digital resmi pasti punya log audit. MOLOD Makassar juga pasti punya. Isinya: siapa user yang login, tanggal jam berapa, NIP apa yang diakses, data apa yang diubah, dari nilai X jadi Y. Log ini adalah "kotak hitam" pesawat BCKS. Kalau ada kecelakaan karier, kotak ini yang bisa jelaskan kronologinya. Tapi kotak itu dikunci rapat. Tidak bisa diakses publik, tidak bisa diaudit independen. Selama kotak hitam dikunci, maka setiap kali ada "nama tiba-tiba muncul" atau "berkas tiba-tiba loncat", publik berhak curiga. Kunci kotak = kunci kebenaran.

Investasi UKOM + Wawancara 2025 Hangus Sia-sia*
UKOM + Wawancara 2025 itu investasi besar. Negara bayar asesor GTK, bayar server CAT, bayar ruang wawancara. Pendidik bayar: sewa laptop, kuota internet, cuti mengajar, transport ke TPK + ke lokasi wawancara. Total bisa Rp 5-7 juta per orang. Isi UKOM berat: ARKAS, Rapor Pendidikan, Kurikulum Merdeka, PMO. Wawancara berat: studi kasus konflik, kepemimpinan pembelajaran, visi misi sekolah. Semua dikuasai, semua dijawab. Sertifikat + berita acara lulus 2025 sudah di tangan. Lalu semua investasi itu dibuang ke tong sampah hanya karena satu lembar SK telat 2 bulan. Negara sudah verifikasi "kompeten + layak" lewat UKOM + Wawancara 2025, tapi negara sendiri yang menggagalkan orang layak itu lewat birokrasi SK.

Dampaknya Sistemik, Bukan Personal: Rantai Pendidikan Patah di Tengah  
Kerugiannya tidak berhenti di satu orang. Efek domino langsung terasa: Sekolah kehilangan calon nahkoda yang sudah paham manajemen, keuangan, kurikulum merdeka. Murid kehilangan figur pemimpin yang sudah lolos UKOM + Wawancara 2025. Dinas kehilangan kader siap pakai yang tinggal dilantik. Yang tersisa cuma Plt yang mutasi tiap tahun, program sekolah tidak nyambung, mutu anjlok. Negara rugi double: rugi anggaran UKOM + Wawancara, rugi mutu pendidikan. Tapi narasi resmi tetap datar: "Maaf, aturan umur". Seolah patahnya rantai pendidikan itu hal kecil.

Setiap hari tanpa rilis data, Dinas GTK sebenarnya sedang bicara lewat diam. Diam = pengakuan bahwa tidak ada data yang bisa dibela. Transparansi itu teknisnya murah: export Excel, hapus kolom nama/NIP, upload PDF "rekap skor per modul UKOM + rekap nilai wawancara". 30 menit selesai. Tapi kalau 30 menit saja tidak sanggup, lalu alasan "sistem belum siap" dipakai berbulan-bulan, maka publik berhak menyimpulkan: bukan sistem yang belum siap, tapi keberanian yang belum ada. Bungkam tidak mematikan api curiga. Bungkam justru menyiram bensin ke api itu.

Tuntutannya sederhana, sah, dan murah biayanya. Hanya dua:  
1.  Buka rekap nilai UKOM + Wawancara 2025 PPPK*. Tidak perlu nama. Cukup: "Peserta 001: Manajerial 72, Supervisi 70, Wawancara 75. Status: Tidak Lulus". Biar pendidik bisa evaluasi diri.  
2.  Buka log audit MOLOD 2025-2026*. Tampilkan: "Tanggal X jam Y, user Z mengakses data NIP A, mengubah field B". Log ini yang akan mematahkan atau membenarkan cerita "nama tiba-tiba muncul". Tidak ada log = semua orang boleh curiga. Ada log = fitnah mati seketika.

Tuntutan Kedua: Akui Luka, Lalu Tambal dengan Aturan Adil" 
Kalau Pemda jujur akui "kami terlambat proses SK", maka langkah selanjutnya bukan diam. Langkahnya: terbitkan aturan "grandfather clause" khusus BCKS Makassar 2025/2026. Isinya: pendidik yang lulus UKOM + Wawancara 2025 sebelum tanggal ulang tahun ke-56, wajib dilantik walau SK definitif turun setelahnya. Keterlambatan administrasi negara tidak boleh jadi hukuman mati karier warga negara. Kalau tidak ada keberanian buat aturan korektif, maka artinya negara memang rela mengorbankan pendidik demi menyelamatkan muka birokrasi.

Aturan dibuat untuk melindungi manusia, bukan untuk mengeksekusi manusia. Pendidik sudah buktikan kompeten lewat UKOM + Wawancara 2025. Negara sudah stempel "lulus + layak". Jangan batalkan stempel itu hanya karena SK telat. Pelantikan Kepsek Makassar 2025/2026 harus jadi garis merah terakhir. Setelah ini tidak boleh ada lagi pendidik gugur karena SK telat. Tidak boleh ada lagi PPPK gagal tanpa skor. Tidak boleh ada lagi log audit dikunci. Makassar, buka datanya. Buka lognya. Kembalikan martabat pendidik yang sudah lulus UKOM + Wawancara 2025. Itu saja. ( Yahya )


 

02 Juni 2026

Makin Banyak Kepsek Gugur di BCKS Karena Usia Lewat : Birokrasi Makassar MOLOD, Siapa Bertanggung Jawab ?


MULIAINFO. Com. MAKASSAR – Fenomena memprihatinkan terus terjadi di seleksi Bakal Calon Kepala Sekolah/BCKS Kota Makassar. Makin tahun makin banyak guru senior yang gugur bukan karena tidak kompeten, tapi karena usia keburu lewat. Kompetensi ada, pengalaman 30 tahun ada, mental pemimpin ada. Tapi sistem memaksa mereka pensiun sebagai "guru biasa". Ini bukan seleksi, ini penyaringan usia. Pemerintah Makassar gagal melindungi aset SDM terbaiknya.

Ironinya paling menyakitkan: lulus semua tahapan. Tes manajerial lolos. Wawancara meyakinkan. Portofolio tebal. Tapi SK definitif baru turun saat usia 58 tahun 7 bulan. Mau memimpin apa? 5 bulan? 1 tahun? Itu bukan pengangkatan, itu formalitas kematian karier. Pemerintah bermain-main dengan masa depan guru.

Lihat alurnya: UPT usulkan ke Dinas Pendidikan 3 bulan. Dinas verifikasi 4 bulan. BKD validasi 5 bulan. Walikota tanda tangan 2 bulan. Total 14 bulan hilang. Sementara usia guru jalan terus. Aturan pensiun 60 tahun tidak pernah diubah, tapi kecepatan birokrasi tidak pernah dipercepat. Ini pembunuhan karier sistematis berkedok prosedur.

Ada apa dengan Pemkot Makassar? Kenapa info BCKS seperti dokumen rahasia negara? Guru usia 42-48 tahun tidak pernah dapat undangan pembinaan calon kepsek. Begitu usia 56 tahun baru ada WA grup: "Bapak/Ibu silakan daftar BCKS". Ini namanya sosialisasi atau formalitas belaka? Kalau serius menyiapkan pemimpin, kaderisasi dimulai sejak guru muda, bukan kejar setoran saat guru sudah ubanan.

Dinas Pendidikan Makassar punya Dapodik lengkap, punya data NIP, usia, masa kerja semua guru. Tapi tidak pernah ada "dashboard kaderisasi kepsek". Tidak ada warning: "Guru ini usia 45, layak dibina jadi kepsek". Yang ada cuma rapat dan laporan. Akibatnya: guru senior numpuk, muda belum siap, sistem kosong pemimpin. Ini kelalaian perencanaan, bukan nasib.

BKD Makassar jangan cuci tangan. Berkas guru bolak-balik 5-6 kali revisi hal sepele: cap, tanggal, format. Sementara meja antrian SK numpuk setinggi meja kerja. Usia guru tidak bisa "revisi". 60 tahun tetap 60 tahun. Birokrasi kerja seperti lambat internet di UPT pelosok: loading terus, padahal waktu guru terus berjalan. Kalau urus berkas saja 8 bulan, lebih baik tutup loket.

Siapa yang bertanggung jawab? Jawabannya pahit: semua pejabat yang duduk nyaman di kursi empuk. Dinas Pendidikan bilang "sudah kami usulkan". BKD bilang "masih proses validasi". Pemerintah bilang "menunggu jadwal". Semua punya alasan, tidak ada yang punya solusi. Guru? Guru cuma dapat janji. Sistem ini sudah rusak dari hulu ke hilir. Yang di atas lempar ke bawah, yang di bawah lempar ke atas. Korban tetap guru.

Guru 30 tahun ngabdi itu bukan angka. Itu 30 tahun bangun pagi, hadapi siswa nakal, urus administrasi UPT, hadapi orang tua, hadapi audit. Otaknya sudah jadi perpustakaan manajemen sekolah. Tapi sistem Makassar lebih percaya SK kertas daripada rekam jejak nyata. Lebih pilih kepala sekolah 3 tahun pengalaman daripada senior 3 dekade pengalaman. Ini bukan seleksi pemimpin, ini seleksi usia KTP.

Bayangkan UPT SPF besar diserahkan ke Plt muda yang masih belajar. Sementara guru senior yang lolos BCKS dipaksa pensiun. Itu sama saja kapal besar dinakhodai anak baru lulus, sementara nahkoda berpengalaman disuruh turun di tengah laut. Makassar sedang bunuh diri pelan-pelan dalam mutu pendidikan. Pengalaman dibuang, ego birokrasi dipelihara.

Stop salahkan guru "kurang proaktif". Guru itu tugasnya mengajar, mendidik, memimpin UPT. Bukan tugasnya mantau web BKD tiap hari. Tugas pemerintah memastikan info sampai, jalur karier jelas, proses cepat. Kalau guru usia 56 baru tahu ada BCKS, itu bukti gagalnya sistem komunikasi Pemkot. Jangan jadikan kelalaian pemerintah sebagai kesalahan guru. Itu tidak adil.

Alasan "ini aturan pusat" sudah basi. Aturan dibuat manusia, bisa diperjuangkan manusia. Pemkot Makassar punya kewenangan, punya bargaining, punya data. Kalau serius selamatkan guru senior, buat nota dinas, ajukan dispensasi, percepat SK kolektif. Tapi kalau dari awal niatnya hanya "jalanin prosedur", ya jangan heran guru senior terus berguguran. Aturan jadi tameng, guru jadi korban.

Makassar tidak kekurangan guru muda. Tapi Makassar sedang kehabisan guru matang. Sekolah besar butuh pemimpin yang sudah makan asam garam: bisa redam konflik, bisa lobi wali murid, bisa hadapi audit. Itu tidak dipelajari 2 tahun. Itu ditempa 30 tahun. Tapi sistem sekarang menutup pintu untuk kematangan itu. Akibatnya: UPT SPF jatuh ke tangan Plt yang masih belajar sambil jalan. Murid yang jadi korban uji coba.

Rasanya seperti apa? Seperti Anda latihan maraton 4 tahun, lolos kualifikasi Olimpiade, baju nomor dada sudah dipakai, lalu panitia bilang: "Maaf, startnya dimajukan 10 menit, Anda telat 30 detik". Lolos seleksi BCKS tapi gagal dilantik karena usia itu lukanya dobel. Capek fisik saat tes, capek hati saat SK tidak turun. Pemerintah Makassar sedang memproduksi guru kecewa secara massal.

Publik berhak buka-bukaan. Berapa jumlah guru 56+ yang lolos BCKS 2024-2026 tapi SK-nya tidak sempat turun? Berapa hari SK mangkrak di meja Dinas? Berapa bulan berkas muter di BKD? Jangan jawab "data rahasia". Ini data nasib orang. Kalau Pemkot Makassar transparan, publik bisa kawal. Kalau ditutup-tutupi, kecurigaan makin liar: ada apa di balik meja? Ada permainan waktu?

Solusinya tidak butuh APBD triliunan. Cukup niat + sistem. Bentuk tim khusus BCKS yang kerja 90 hari tuntas. Satu pintu: UPT usulkan → Dinas verifikasi 2 minggu → BKD proses 1 bulan → Walikota tanda tangan kolektif. Sosialisasi BCKS wajib ke semua UPT saat guru usia 42 tahun, bukan 56 tahun. Kaderisasi jalan 10 tahun, bukan 10 bulan. Kalau pejabat tidak sanggup percepat, mundur. Kasih tempat ke orang yang sanggup kerja cepat untuk guru.

Catat ini baik-baik untuk sejarah pendidikan Makassar: Di era 2024-2026, kita kehilangan puluhan pemimpin sekolah terbaik. Bukan karena mereka bodoh. Bukan karena mereka malas. Tapi karena birokrasi Makassar lebih lambat dari usia guru. Guru sudah siap mengabdi sampai titik darah penghabisan. Sekarang giliran pemerintah: siap berbenah, atau siap dicatat sebagai penghancur karier guru senior? ( Yahya )

--

01 Juni 2026

Khidmat, SMPN 22 Makassar Peringati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 Bersama Kepsek Hj. Salma, S.Pd


MULIAINFO. Com. Makassar – SMP Negeri 22 Makassar Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin 1 Juni 2026. Upacara dimulai tepat pukul 07.30 WITA di lapangan utama sekolah dan diikuti seluruh warga sekolah dengan penuh khidmat.

Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Kepala Sekolah Hj. Salma, S.Pd. Beliau hadir didampingi Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, seluruh staf tata usaha, dewan guru, serta siswa-siswi kelas 7 sampai kelas 9. Semua peserta mengenakan seragam OSIS lengkap dan berbaris rapi sesuai kelas masing-masing.

Petugas upacara diambil dari siswa kelas 8 dan 9 yang telah mengikuti latihan intensif selama 1 minggu. Susunan petugas terdiri dari komandan upacara kelas 9, pemimpin peleton, pengibar bendera Merah Putih 3 orang, pembaca teks Pancasila, pembaca pembukaan UUD 1945, pembaca doa, dan dirigen paduan suara. Semua menjalankan tugas dengan disiplin tinggi.

Rangkaian upacara berjalan sesuai susunan acara resmi. Dimulai penghormatan peserta kepada Pembina Upacara, laporan komandan upacara, pengibaran bendera Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya 3 bait, mengheningkan cipta selama 60 detik dipimpin Pembina Upacara untuk mengenang jasa pahlawan, pembacaan teks Pancasila, pembacaan pembukaan UUD 1945, amanat Pembina Upacara, pembacaan doa, dan laporan penutup.

Dalam amanatnya, Hj. Salma, S.Pd menekankan pentingnya Pancasila sebagai pedoman hidup siswa SMP. "Anak-anakku, kalian sudah remaja. Pancasila harus jadi kompas hidup kalian. Sila pertama: taat beribadah sesuai agama masing-masing. Sila kedua: hargai teman, jangan bullying. Sila ketiga: jaga persatuan, jangan berkelompok. Sila keempat: belajar bermusyawarah di OSIS dan kelas. Sila kelima: adil ke semua teman, tidak pilih kasih," tegas Kepsek.


Beliau juga menyoroti kedisiplinan dan prestasi. "SMP itu masa pembentukan karakter. Masuk sekolah jam 07.00, seragam rapi, hormat guru, itu disiplin. Kalau kalian disiplin + rajin belajar, insyaAllah SMPN 22 Makassar akan melahirkan siswa yang berprestasi akademik dan non-akademik. Nama baik sekolah ada di tangan kalian," pesan Hj. Salma, S.Pd disambut tepuk tangan guru.

Suasana upacara berlangsung khidmat dan tertib. Saat pengibaran bendera, seluruh siswa menyanyikan Indonesia Raya dengan suara lantang. Pengibar bendera berhasil menaikkan Sang Merah Putih sampai ujung tiang tanpa kendala. Siswa kelas 7 yang baru masuk SMP terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian.

Upacara ditutup dengan pembacaan doa oleh guru agama Islam, dilanjutkan laporan komandan upacara: "Upacara selesai, Pembina Upacara berkenan meninggalkan lapangan". Pukul 08.20 WITA, Hj. Salma, S.Pd menyalami petugas upacara dan meninggalkan lapangan. Siswa kemudian kembali ke kelas untuk mengikuti jam pelajaran pertama.

Di akhir amanat, Hj. Salma, S.Pd menyampaikan harapan besar untuk SMPN 22 Makassar. "Ibu berharap nilai-nilai Pancasila yang kita peringati hari ini benar-benar diamalkan. Ibu ingin lihat siswa SMPN 22 makin disiplin, makin peduli teman, makin berprestasi. Kalau itu terjadi, berarti upacara kita hari ini punya makna," tutup Kepsek.

Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama Kepala Sekolah Hj. Salma, S.Pd, staf, guru, dan perwakilan siswa pengurus OSIS di depan gapura sekolah sebagai dokumentasi Hari Lahir Pancasila tahun 2026.  

 Redaksi Muh Yahya -

-

Gugus 3 Kompak Peringati Hari Lahir Pancasila: 5 UPT, Kepsek, Guru & Siswa Satu Barisan


MULIAINFO. Com. Makassar -- 1 Juni 2026, Gugus 3 menggelar Upacara Hari Lahir Pancasila dengan penuh khidmat. Lapangan pagi itu dipenuhi warna merah putih. Bendera berkibar pelan, semua berdiri tegak menatap ke atas. Suasana hening saat doa dibacakan. Hari ini kita ingat jasa para pendiri bangsa yang melahirkan Pancasila 1 Juni 1945.

5 Sekolah Satu Barisan, Satu Tujuan"  
Ada 5 sekolah yang bergabung jadi satu: SD Inpres Kassi, SDN Parinring, SDN Kassi, SD Inpres Tamangapa, dan SD Inpres Kajenjeng. Walaupun beda nama dan beda gedung, hari ini kami satu barisan. Satu tujuan kami sama: menanamkan nilai Pancasila ke anak-anak sejak dini.

Ibu Sukmawati, S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Inpres Kassi hadir dan memimpin barisan UPT-nya dengan wibawa. Di sebelah beliau, kepala sekolah 4 UPT lain juga berdiri paling depan. Mereka datang paling awal dan pulang paling akhir. Dari sini siswa belajar: pemimpin yang baik itu memberi contoh dulu, baru memerintah.

Guru Gugus 3 hadir lengkap dengan seragam PDH/seragam adat yang rapi. Semangatnya luar biasa. Siswa-siswi dari kelas 1 sampai kelas 6 juga ikut berbaris. Walau masih kecil, mereka diam saat hening cipta dan lantang saat menyanyi. Disiplin kecil ini cikal bakal cinta tanah air yang besar.

Pancasila Turun dari Teks ke Lapangan*  
Upacara bukan cuma baca teks. Saat hormat bendera, kita latih sila ke-3 Persatuan Indonesia. Saat bantu teman yang topinya jatuh, kita amalkan sila ke-2 Kemanusiaan. Saat antre masuk barisan, kita latih sila ke-5 Keadilan. Jadi Pancasila itu bukan hafalan, tapi gerakan yang kita lakukan setiap hari di sekolah.
 

Pembina upacara berpesan 3 hal yang gampang diingat anak: Hormati Tuhan Yang Maha Esa, sayangi dan tolong teman, jaga persatuan di kelas. Tiga hal ini kalau dilakukan guru dan siswa setiap hari, maka sekolah jadi rumah kedua yang aman dan nyaman. Tidak ada bully, tidak ada ribut.

Tidak Ada yang Absen, Semua Komitmen 
Yang paling membanggakan: kehadiran 100%. Kepala sekolah 5 UPT hadir semua. Guru Gugus 3 tidak ada yang izin. Siswa-siswi datang tepat waktu walau rumahnya jauh. Ini bukti kecil tapi penting. Kalau untuk Pancasila kita bisa kompak, pasti untuk belajar dan berlomba juga bisa.

Lagu Penutup yang Menyentuh Hati  
"Garuda Pancasila" dan "Bagimu Negeri" dinyanyikan bersama-sama. Suara kepsek, guru, dan siswa jadi satu padu. Anak kelas 1 suaranya pelan tapi semangat. Anak kelas 6 jadi dirigen dadakan. Dari lagu itu lahir janji di hati: kami siap jadi anak dan pendidik yang cinta Indonesia.

Pukul 08.00 upacara selesai, tapi ujian Pancasila baru mulai. Tugas guru: mengajar dengan adil, tidak pilih kasih. Tugas siswa: belajar sungguh-sungguh, jujur saat ulangan, dan mau berbagi alat tulis. Pancasila bukan cuma untuk 1 Juni. Pancasila untuk Senin sampai Sabtu di kelas.

Gugus 3 Bergerak Bersama untuk Negeri 
SD Inpres Kassi, SDN Parinring, SDN Kassi, SD Inpres Tamangapa, SD Inpres Kajenjeng. Ibu Sukmawati, S.Pd bersama kepsek lain, guru, dan siswa-siswi. Kita beda sekolah, beda kelas, tapi satu Indonesia. Gugus 3 kompak, guru ikhlas mengajar, siswa semangat belajar. Gugus 3 siap mengabdi untuk negeri 🇮🇩 Merdeka! ( Yahya )




Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026: UPT SPF SD Inpres Bangkala 1 Wujudkan Karakter Pancasila Lewat Aksi Nyata Siswa


MULIAINFO. Com. MAKASSAR - Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, UPT SPF SD Inpres Bangkala 1 mereka menegaskan komitmen mengamalkan 45 butir Pancasila sesuai Ketetapan MPR No. I/MPR/2003. Komitmen ini dipimpin langsung Kepala Sekolah Amrin, S.Pd bersama seluruh staf, guru, dan siswa-siswi.

Di bawah arahan  Kepala Sekolah Amrin, S.Pd, UPT SPF SD Inpres Bangkala 1 menjadikan 45 butir Pancasila sebagai kompas utama pembinaan karakter. Staf, guru, dan siswa-siswi sepakat bahwa nilai luhur bangsa harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan harian. Sekolah secara rutin mengadakan pembinaan, apel pagi, dan literasi Pancasila agar butir-butirnya dipahami maknanya, bukan hanya dihafal. Harapannya, setiap warga sekolah jadi teladan pengamalan Pancasila di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Pada Sila ke-1 Ketuhanan Yang Maha Esa berlambang Bintang dengan 7 butir, guru menanamkan nilai keimanan dan toleransi sejak dini.  Siswa-siswi  diajarkan percaya dan takwa sesuai agama masing-masing melalui doa bersama sebelum belajar. Mereka juga dilatih menghormati teman beda keyakinan, membina kerukunan saat kegiatan keagamaan, serta memahami bahwa agama adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Sikap tidak memaksakan keyakinan dan menghormati kebebasan beribadah jadi budaya kelas yang dijaga staf dan guru setiap hari.

Sila ke-2 Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab berlambang Rantai dijabarkan dalam 10 butir yang jadi fondasi perlakuan antar manusia.  Staf dan guru  UPT SPF SD Inpres Bangkala 1 menekankan pengakuan harkat martabat setiap  siswa-siswi tanpa membeda-bedakan suku, agama, gender, warna kulit, atau status sosial. Anak-anak dilatih tenggang rasa, tepa selira, tidak semena-mena, serta gemar kegiatan kemanusiaan seperti membantu teman jatuh atau menjenguk yang sakit. Keberanian membela kebenaran dan keadilan juga ditumbuhkan lewat cerita dan diskusi kelas agar siswa paham bahwa kemanusiaan berlaku untuk semua bangsa.

Untuk Sila ke-3 Persatuan Indonesia berlambang Pohon Beringin dengan 7 butir, Kepala Sekolah Amrin, S.Pd mengajak seluruh warga sekolah menempatkan kepentingan bangsa di atas pribadi dan golongan.  Siswa-siswi ditumbuhkan rasa cinta tanah air lewat upacara bendera, menyanyi lagu nasional, dan mengenal budaya daerah. Kebanggaan sebagai anak Indonesia diasah agar mereka rela berkorban untuk kebaikan bersama. Guru  juga menanamkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam pergaulan, sehingga perbedaan latar belakang justru memperkaya persatuan di kelas.

Sila ke-4 Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan berlambang Kepala Banteng berisi 10 butir tentang demokrasi. Guru membiasakan musyawarah mufakat saat menentukan jadwal piket, memilih ketua kelas, atau merencanakan kegiatan. Siswa-siswi* belajar bahwa setiap warga punya kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama, sehingga tidak boleh memaksakan kehendak. Keputusan hasil musyawarah dihormati dan dijalankan bersama dengan rasa tanggung jawab. Proses ini dilakukan dengan akal sehat dan hati nurani, serta dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan, demi persatuan dan kepentingan bersama.


Sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia berlambang Padi dan Kapas memiliki 11 butir.  Kepala Sekolah Amrin, S.Pd  bersama staf dan guru  menanamkan perbuatan luhur, sikap adil, serta keseimbangan hak dan kewajiban. Siswa-siswi  dilatih suka menolong agar mandiri, tidak boros atau merugikan umum, kerja keras, dan menghargai karya teman lewat lomba dan pameran kelas.

Di Hari Lahir Pancasila ini,  staf, guru, dan siswa-siswi mengamalkan butir Pancasila lewat aksi nyata. Pagi diawali doa bersama sesuai agama masing-masing cermin Sila 1. Antre tertib wujud Sila 2. Piket kebersihan dan kerja kelompok praktik Sila 3 dan Sila 5. Pemilihan ketua kelas lewat musyawarah adalah bukti Sila 4.

Musyawarah kelas rutin digelar setiap akhir pekan diinisiasi  guru  dan difasilitasi  staf. Setiap  siswa-siswi diberi ruang menyampaikan pendapat. Keputusan diambil mufakat dengan semangat kekeluargaan. Setelah diputuskan, semua warga kelas wajib menjalankan dengan iktikad baik. Dari sini demokrasi dan tanggung jawab tumbuh sejak SD.

Mengacu Sila ke-2 dan ke-5,  Kepala Sekolah Amrin, S.Pd  menggerakkan  staf, guru, dan siswa-siswi  dalam kegiatan peduli sesama dan lingkungan. Ada aksi bersih sekolah, donasi untuk teman, serta hemat air-listrik. Anak diajarkan tidak hidup mewah karena harta dipakai untuk kemajuan bersama sesuai 11 butir Padi dan Kapas.

“Pancasila harus jadi perilaku, bukan hanya hafalan. Dengan sinergi kepala sekolah, staf, guru, dan siswa-siswi , kami optimis melahirkan generasi religius, beradab, cinta NKRI, demokratis, dan peduli,” tegas Amrin, S.Pd. Di momentum 1 Juni 2026, UPT SPF SD Inpres Bangkala 1 Makassar bertekad menjadikan 45 butir sebagai fondasi kuat masa depan bangsa. ( Yahya )


Upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 Berlangsung Khidmat di SDI Banta - Bantaeng 1


MULIAINFO. Com. Makassar – SDI Banta-Bantaeng 1 Kelurahan Banta-Bantaeng, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin 1 Juni 2026. Upacara dimulai tepat pukul 07.30 WITA di halaman depan sekolah dan berlangsung hingga pukul 08.15 WITA. Cuaca pagi cerah mendukung jalannya upacara dengan lancar.

Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Kepala Sekolah *Hasdiarah Kadir, S.Pd*. Beliau hadir didampingi seluruh staf tata usaha dan dewan guru SDI Banta-Bantaeng 1. Peserta upacara adalah siswa-siswi dari kelas 1 sampai kelas 6 yang berbaris sesuai kelas masing-masing. Semua peserta mengenakan seragam putih-merah lengkap dengan dasi, topi, dan sepatu hitam.

Petugas upacara diseleksi dari siswa kelas 5 dan 6 yang memiliki postur dan kedisiplinan baik. Sebagai komandan upacara siswa kelas 6A, pemimpin peleton dari kelas 5-6, pengibar bendera 3 orang siswa kelas 6B, pembaca teks Pancasila siswa kelas 5A, pembaca pembukaan UUD 1945 guru kelas 3, dan pembaca doa guru agama Islam. Latihan petugas sudah dilakukan 3 hari sebelumnya agar pelaksanaan rapi.

Rangkaian upacara berjalan tertib sesuai susunan acara. Dimulai dengan penghormatan peserta kepada Pembina Upacara, laporan komandan upacara, pengibaran bendera Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya yang dipandu paduan suara guru, mengheningkan cipta selama 17 detik dipimpin Pembina Upacara untuk mengenang jasa pahlawan, pembacaan teks Pancasila oleh siswa, pembacaan pembukaan UUD 1945 oleh guru, amanat Pembina Upacara, pembacaan doa, dan diakhiri laporan komandan upacara bahwa upacara selesai.

Dalam amanatnya, Hasdiarah Kadir, S.Pd menyampaikan 3 pesan utama. Pesan pertama adalah disiplin. "Anak-anakku, disiplin itu datang ke sekolah sebelum bel berbunyi pukul 07.00. Baju dimasukkan rapi, kuku dipotong, PR dikerjakan di rumah. Kalau dari kecil kita biasakan disiplin, nanti besar jadi orang yang tepat waktu dan dipercaya orang. Itu modal sukses," jelas beliau sambil memberi contoh guru yang selalu datang lebih awal.


Pesan kedua tentang hormat dan tolong menolong. "Hormat itu cium tangan guru waktu datang, bilang 'permisi' kalau lewat di depan orang, dengar kalau guru lagi jelaskan pelajaran. Tolong menolong itu lihat teman pensilnya patah, kasih pinjam. Lihat teman jatuh di lapangan, angkat dan antar ke UKS. Itu namanya mengamalkan Sila Kedua Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Di SD kita, tidak boleh ada yang merasa paling kuat, tidak boleh bully teman," tegas Kepsek. Siswa-siswi mengangguk sambil lihat teman sebelahnya.

Pesan ketiga tentang rajin belajar sebagai wujud bela negara. "Anak-anak, belajar sungguh-sungguh itu juga bela negara. Dulu pahlawan angkat senjata, sekarang kalian angkat buku dan pensil. Kalau kalian pintar, nanti bisa jadi dokter yang obati orang Makassar, jadi guru yang ajar adik kelas, jadi polisi yang jaga keamanan. Makassar butuh anak-anak SDI Banta-Bantaeng 1 yang pintar dan berakhlak. Jadi dari hari ini, PR dikerjakan, pelajaran diulang di rumah," pesan Kepsek disambut tepuk tangan guru.

Sepanjang upacara, suasana khidmat. Siswa kelas 1-2 yang awalnya banyak gerak, jadi diam saat bendera dikerek perlahan. Saat menyanyikan Indonesia Raya 3 bait, suara siswa-siswi menggema ke seluruh halaman sekolah. Petugas pengerek bendera kelas 6B menjalankan tugasnya tanpa kesalahan. Komandan upacara kelas 6A memberikan laporan dengan suara lantang. Guru pembina pramuka tampak tersenyum bangga dari barisan guru.

Upacara ditutup dengan pembacaan doa oleh guru agama Islam, dilanjutkan laporan komandan upacara: "Upacara selesai, Pembina Upacara berkenan meninggalkan lapangan upacara". Pukul 08.15 WITA, Hasdiarah Kadir, S.Pd menyalami satu per satu petugas upacara dan meninggalkan lapangan. Siswa-siswi kemudian bubar berbaris rapi dipandu guru kelas masing-masing dan kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran seperti biasa.

Di akhir amanat, Hasdiarah Kadir, S.Pd menyampaikan harapan. "Ibu berharap nilai Pancasila yang kita upacarakan hari ini tidak berhenti sampai di sini. Mulai besok Ibu ingin lihat anak-anak lebih disiplin masuk sekolah, lebih rajin bantu teman, lebih semangat belajar. Kalau itu terjadi, berarti upacara kita hari ini berhasil. Guru-guru juga berkomitmen mencontohkan 5 sila Pancasila di sekolah ini," tutup Kepsek. Guru dan siswa kemudian foto bersama di depan tiang bendera sebagai dokumentasi.  

Redaksi Muh Yahya 


Mengamalkan Pancasila Sejak SD ," UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2 / 1 Juni 2026


MULIAINFO. Com. Makassar -- Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat dan karunia-Nya, pagi yang cerah ini kita semua, Bapak/Ibu guru, staf tata usaha, dan siswa-siswi UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2 dapat berkumpul dengan tertib di halaman sekolah kebanggaan kita ini. Kehadiran semua dalam upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 adalah bukti cinta kita kepada bangsa.

Saya H. Mustafa, S.Pd selaku Kepala Sekolah UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2 menyampaikan hormat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta upacara. Terima kasih kepada Bapak/Ibu guru yang telah membina barisan dengan sabar. Terima kasih kepada staf tata usaha yang menyiapkan segala kebutuhan. Dan kepada anak-anakku yang saya banggakan: Sy. Nurjanna, Rajmiati, Lufni, Istawal, Muhammad Hijaz, Firman, serta seluruh siswa kelas 1 sampai kelas 6. Wajah cerah dan barisan lurus kalian pagi ini adalah harapan bangsa.

Tanggal 1 Juni 1945 adalah hari bersejarah. Di tanggal inilah Bapak Pendiri Bangsa Ir. Soekarno pertama kali menyampaikan gagasan Pancasila sebagai dasar negara di sidang BPUPKI. Lima sila lahir dari bumi Indonesia untuk mempersatukan ribuan pulau, suku, dan agama. Kini tahun 2026, 81 tahun berlalu. Zaman berubah, teknologi maju, tapi nilai Pancasila tetap relevan. Hari ini, di UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2, giliran kita menjaga Pancasila tetap hidup dalam tindakan.

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita buktikan pagi ini dengan berdoa bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Saya lihat anak-anak berdoa dengan khusyuk, tidak saling mengganggu. Di SD Inpres Tamamaung 2, masjid, gereja, pura, vihara, semua kita hormati. Karena Tuhan mengajarkan toleransi. Anak Tamamaung harus jadi anak yang bertakwa dan saling menghargai. Inilah pengamalan sila pertama yang nyata.

Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. "Adil" artinya tidak pilih kasih. "Beradab" artinya punya sopan santun. Buktinya saat upacara kalian tidak mendorong teman, tidak mengejek yang salah baris, tidak membuang sampah sembarangan. Kalau lihat teman kehausan, beri air minum. Kalau teman jatuh, tolong bangunkan. Itulah manusia beradab. Saya yakin siswa UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2 adalah anak-anak yang beradab dan berhati mulia.


Sila ketiga: Persatuan Indonesia. Lihat barisan kita pagi ini. Ada kelas 1 yang masih malu-malu, ada kelas 6 yang jadi kakak teladan. Ada laki-laki, ada perempuan. Rumahnya beda-beda di wilayah Tamamaung. Tapi saat bendera merah putih naik dan lagu Indonesia Raya berkumandang, kita semua jadi satu: Indonesia. Tidak ada kelompok A, tidak ada kelompok B. Di sekolah ini kita bersaudara. Beda pendapat boleh, tapi tujuan kita satu: memajukan sekolah dan bangsa. Jaga persatuan ini sampai besar nanti.

Sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan. Artinya semua keputusan harus lewat musyawarah, bukan paksaan. Anak-anakku, nanti di kelas kalau pilih ketua kelas, jangan tunjuk sendiri. Kumpulkan pendapat teman. Dengarkan usulan satu sama lain, timbang baik-buruknya. Baru putuskan bersama dengan jujur. Bapak/Ibu guru juga begitu. Kalau ada aturan baru di sekolah, kami musyawarah dulu. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengar. Jadilah pemimpin kecil yang bijaksana mulai dari kelas 1.

Sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan itu rasanya seperti ini: saat pembagian tugas petugas upacara, semua kelas dapat giliran. Saat lomba 17 Agustus, hadiahnya sama untuk semua juara. Saat guru mengajar, anak yang pintar dapat bimbingan, anak yang butuh bantuan juga dapat perhatian. Tidak ada anak emas, tidak ada anak tiri. Di UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2, semua anak berhak dapat ilmu, kasih sayang, dan kesempatan berprestasi. Tugas kita memastikan tidak ada teman yang tertinggal.

Kepada Bapak/Ibu guru dan staf tata usaha UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2, beban kita besar tapi mulia. Kita bukan hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung. Kita membentuk karakter Pancasila. Tanamkan nilai-nilai ini lewat setiap mata pelajaran, lewat cara kita menyapa anak di gerbang, lewat disiplin datang tepat waktu. Staf mari layani orang tua siswa Kelurahan Tamamaung dengan senyum, cepat, dan tulus. Ingat, anak meniru apa yang dia lihat. Kalau kita kompak mengamalkan Pancasila, maka siswa-siswi kita akan tumbuh jadi generasi emas. Insya Allah sekolah ini jadi rujukan penguatan profil pelajar Pancasila.

Sebagai penutup, mari kita panjatkan doa bersama untuk bangsa Indonesia dan untuk keluarga besar UPT SPF SD Inpres Tamamaung 2. Semoga Allah SWT meridhoi langkah kita semua. Semoga di bawah kepemimpinan saya H. Mustafa, http://S.Pd, sekolah ini terus maju, melahirkan siswa-siswi yang cerdas otaknya, mulia akhlaknya, dan cinta tanah airnya. Dirgahayu Pancasila ke-81 Tahun 2026. Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa. Mari kita amalkan, mari kita jaga, mari kita wariskan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Merdeka! Merdeka! Merdeka! ( Yahya )