MULIAINFO. COM - MAKASSAR - Fakta mengejutkan dibongkar Plt Direktur Utama PDAM Kota Makassar, Dr. H. Andi Syahrum Makkuradde, SE,M.Si. Ia menyebut selama ini banyak anggaran PDAM Kota Makassar dihambur-hamburkan untuk kegiatan tidak penting.
Pengakuan blak-blakan itu disampaikan Andi Syahrum saat menjadi narasumber di program Bincang Tokoh Fajar.co.id yang dipandu langsung di studio.
Dengan nada kecewa, Andi Syahrum menyebut tradisi lama direksi PDAM adalah gemar jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih studi banding, padahal hasilnya nihil untuk masyarakat Makassar.
"Contoh direksi ke Jepang, direksi ke Filipina, ke Korea. Hasilnya juga tidak ada. Buat apa itu?" sentil Andi Syahrum dengan tegas dalam video wawancara tersebut.
Ia membeberkan bahwa setiap kali berangkat ke luar negeri, anggaran yang dikuras tidak sedikit. Pasalnya, yang berangkat bukan satu dua orang, melainkan rombongan 15 sampai 30 orang direksi dan pejabat.
Bayangkan, puluhan orang diterbangkan ke Jepang, Filipina, Korea dengan biaya tiket, hotel, dan uang saku dari uang rakyat, namun sekembalinya ke Makassar, kran air warga tetap macet dan pipa tetap bocor.
Menurut Andi Syahrum, gaya kepemimpinan seperti itu adalah gaya lama yang harus dihentikan. Permasalahan PDAM tidak akan selesai dengan foto-foto di luar negeri.
Ia menegaskan bahwa solusi permasalahan air di Makassar tidak ada di Tokyo atau Seoul, tapi ada di lorong-lorong Kota Makassar itu sendiri, di mana pipa-pipa tua tertanam sejak tahun 70-an.
Untuk itu, langkah cerdas justru ia lakukan dengan memanggil kembali para purna tugas atau pensiunan PDAM yang selama ini dilupakan.
Para pensiunan inilah yang menurutnya adalah guru dan ahli sesungguhnya. Mereka tahu persis di mana letak pipa bocor, di mana jalur buntu, karena mereka yang memasangnya puluhan tahun lalu.
"Orang Makassar pintar-pintar. Dia tahu pipa ini di mana. Tidak perlu kita ke luar negeri habis-habisan anggaran. Manfaatkan SDM yang purna, mereka ahli semua," tegasnya.
Tak hanya perjalanan luar negeri, Andi Syahrum juga menyikat habis budaya pembentukan panitia di tubuh PDAM yang dinilainya hanya menjadi ajang bagi-bagi honorarium.
Ia menyebut di PDAM sudah ada Kepala Seksi yang memang tugasnya mengerjakan kegiatan, namun anehnya setiap ada kegiatan dibentuk lagi panitia baru.
"Untuk apa ada Kepala Seksi kalau ada panitia lagi? Ada panitia lagi, semua honornya lagi. Nah untuk apa dia jadi Kepala Seksi?" kritik pedasnya yang membuat host terdiam.
Menurutnya, budaya seperti itu adalah pemborosan yang terstruktur. Anggaran yang seharusnya untuk beli pipa baru dan perbaiki meteran warga, malah habis untuk honor panitia yang kerjanya tumpang tindih.
Mulai sekarang, di bawah komandonya, ia memastikan semua anggaran siluman dan kegiatan foya-foya tersebut akan dipangkas habis tanpa ampun.
Andi Syahrum menegaskan fokusnya hanya satu, yakni mengembalikan PDAM ke khittahnya sebagai pelayan rakyat, bukan sebagai biro wisata direksi.
Fokus kerja yang ia canangkan sangat jelas dan terukur: pertama perbaikan pipa, kedua penyambungan baru, ketiga meteran air, dan keempat yang paling vital adalah air baku.
"Semua yang tidak perlu kami pangkas. Kami fokus kepada pelayanan. Pipa, penyambungan baru, meteran, air baku. Jadi kami fokus. Itu pokoknya!" kuncinya.
Pernyataan tajam Plt Dirut PDAM Makassar ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi manajemen lama yang lebih doyan studi banding ke luar negeri daripada turun langsung mencium bau lumpur dan memperbaiki pipa bocor di lapangan demi rakyat Makassar.
