MULIAINFO.COM, MAKASSAR — Program penguatan Bank Sampah Unit (BSU) yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar mulai menunjukkan hasil. Pendapatan dari penjualan sampah anorganik melalui jaringan bank sampah tercatat mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2026.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
Kota Makassar, pendapatan Bank Sampah Pusat (BSP) pada 2025 tercatat sekitar
Rp367 juta dalam setahun. Sementara memasuki 2026, pendapatan tersebut
meningkat menjadi Rp903,95 juta hingga Juli atau pertengahan tahun.
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman,
mengatakan pemerintah kota menargetkan pendapatan dari penjualan sampah
anorganik mencapai Rp2,5 miliar pada tahun ini.
Menurutnya, peningkatan tersebut tidak
terlepas dari upaya Pemkot Makassar dalam memperkuat pengumpulan dan penjualan
sampah anorganik melalui Bank Sampah Unit yang tersebar di sejumlah wilayah.
“Kami ingin masyarakat lebih mudah
menyalurkan sampah anorganiknya. Karena itu, Bank Sampah Unit terus kami
perkuat agar menjadi titik pengumpulan di setiap kawasan,” ujar Helmy, Selasa
(4/8/2026).
Penguatan jaringan BSU juga terlihat dari
jumlah unit yang terus bertambah. Pada 2025, tercatat sebanyak 433 Bank Sampah
Unit. Jumlah tersebut meningkat menjadi 670 unit pada 2026.
Helmy menjelaskan, sampah anorganik merupakan
jenis sampah yang relatif sulit terurai secara alami, namun masih dapat
dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang dan memiliki nilai ekonomi
apabila dipilah berdasarkan jenisnya.
Sejumlah material yang dapat disetorkan ke
bank sampah di antaranya plastik, seperti botol air mineral, botol minuman,
gelas plastik, botol sampo, botol sabun, jeriken, ember, dan baskom bekas.
Selain plastik, bank sampah juga menerima
kardus, kertas, koran, majalah, berbagai jenis logam, besi tua, aluminium,
tembaga, kuningan hingga botol kaca bening.
“Semua material tersebut memiliki pasar dan
nilai ekonomi, asalkan dipilah dengan baik sejak dari rumah,” tegas Helmy.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk
membersihkan dan mengeringkan sampah sebelum disetorkan ke bank sampah. Langkah
tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas material sekaligus meningkatkan
nilai jual sampah.
Helmy optimistis pendapatan dari penjualan
sampah anorganik akan terus meningkat seiring dengan semakin masifnya penerapan
pemilahan sampah dari sumbernya.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang
memilah sampah sejak dari rumah, maka semakin besar pula volume sampah bernilai
ekonomi yang dapat dikumpulkan melalui jaringan Bank Sampah Unit.
Sementara itu, Ketua Dewan Lingkungan Hidup
Kota Makassar, Melinda Aksa, menilai perkembangan bank sampah di Makassar
menunjukkan tren positif. Hal tersebut, kata dia, menjadi salah satu indikator
meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Dengan penguatan Bank Sampah Unit,
masyarakat tidak hanya berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih, tetapi
juga mendapat nilai ekonomi dari sampah yang mereka hasilkan,” ungkap Melinda.
Penguatan jaringan bank sampah diharapkan
mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari rumah
sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari material yang sebelumnya dianggap
tidak bernilai.
