22 Januari 2026

OMC Pangkas Risiko Cuaca hingga 30 Persen, Evakuasi Korban ATR 42-500 Diupayakan Lewat Jalur Udara





Muliainfo, Sulsel — Upaya evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, kembali menunjukkan perkembangan positif setelah cuaca mulai membaik.Kamis (22/01).


Perbaikan kondisi cuaca ini tidak terjadi begitu saja. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Makassar melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang terbukti memberikan dampak signifikan.


Dengan adanya OMC, tim SAR memiliki peluang lebih besar untuk memaksimalkan penggunaan helikopter dalam proses evakuasi. Metode yang sama sebelumnya telah digunakan untuk mengevakuasi korban pertama.


Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI (Purn) Mohammad Syafii, menegaskan bahwa OMC memberikan kontribusi besar dalam menekan risiko cuaca buruk yang selama ini menghambat operasi.


Menurutnya, daerah pencarian sebelumnya diselimuti hujan dan kabut tebal, sehingga operasi udara sempat tidak memungkinkan. Kondisi tersebut menjadi tantangan terbesar bagi tim SAR gabungan.


“Alhamdulillah, operasi modifikasi cuaca sangat berpengaruh. Ini membantu kita mengurangi sekitar 30 persen risiko cuaca sehingga helikopter bisa kita terbangkan untuk evakuasi,” ujar Syafii di Kantor SAR Kelas A Makassar, Kamis, 22 Januari 2026.


Dengan membaiknya cuaca, helikopter kini dapat menjangkau titik-titik sulit di lereng Bulusaraung yang sangat terjal dan jauh dari akses darat.


Syafii berharap kondisi cuaca yang lebih bersahabat ini juga dapat dimanfaatkan oleh tim SAR darat untuk bergerak lebih cepat dan aman.


“Mudah-mudahan SAR darat juga bisa melaksanakan operasi dengan maksimal,” tambahnya.


Pada Kamis, 22 Januari 2026, tim SAR gabungan kembali menemukan enam paket berisi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lokasi pencarian.


Seluruh jenazah rencananya akan dievakuasi menggunakan helikopter dan selanjutnya dibawa ke RS Bhayangkara Makassar.


Di rumah sakit, tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri bersama Polda Sulsel akan melakukan proses identifikasi secara menyeluruh.


Syafii menyebutkan bahwa evakuasi udara direncanakan dilaksanakan pada Jumat, 23 Januari 2026, apabila kondisi cuaca kembali mendukung.


Namun, jika terjadi perubahan cuaca ekstrem, tim akan mengalihkan operasi ke jalur darat seperti proses evakuasi sebelumnya.


“Kalau cuaca mendukung, kita pakai helikopter. Tapi kalau tidak, evakuasi dilakukan melalui jalur darat,” jelasnya.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel, Amson Padolo, menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC merupakan instruksi langsung Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.


Instruksi tersebut diberikan setelah Gubernur melihat langsung kondisi medan dan cuaca yang menyulitkan proses evakuasi di Posko Aju.


“Pak Gubernur bersama Menteri Perhubungan sudah meninjau langsung dan melihat betapa sulitnya proses evakuasi akibat cuaca dan medan yang terjal,” kata Amson.


Karena itu, Gubernur mengarahkan agar OMC segera dilaksanakan sebagai langkah taktis mendukung kelancaran pencarian dan evakuasi korban.


Amson menjelaskan bahwa OMC dimulai pada Selasa, 20 Januari 2026, dengan dukungan penuh dari BMKG dan TNI Angkatan Udara.


Setiap sortie pesawat dilakukan dengan penyemaian sekitar satu ton bahan semai kalsium oksida (CaO) dari udara menggunakan pesawat Cessna.


“Kita bersyukur OMC yang dilaksanakan BMKG bersama Pemprov Sulsel membawa hasil signifikan. Hujan berkurang, kabut terurai, dan pergerakan tim SAR menjadi lebih efisien,” ujarnya.


Sebelumnya, tim DVI telah berhasil mengidentifikasi dua jenazah korban, yaitu Florensia Lolita Wibisono yang berprofesi sebagai pramugari, dan Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).


Keduanya telah diserahkan kepada pihak keluarga pada Rabu, 21 Januari 2026, untuk dimakamkan.


Operasi pencarian dan evakuasi dipastikan akan terus dilanjutkan sampai seluruh korban berhasil ditemukan dan diidentifikasi. (*)