MULIAIFO. Com -- MAKASSAR - Partai Golkar Sulawesi Selatan menunjukkan soliditas mesin politik di tingkat daerah. Sinyal penguatan itu terlihat dari intensnya pergerakan 21 Ketua DPD II se-Sulsel yang berkumpul dalam satu forum konsolidasi. Langkah ini menegaskan posisi Sulsel sebagai salah satu basis utama Golkar di Indonesia Timur.
Konsolidasi tersebut bukan instruksi dari DPP, melainkan inisiatif kolektif yang lahir dari bawah. Pola ini dinilai lebih organik karena berangkat dari kebutuhan daerah untuk menyamakan frekuensi politik. Kehadiran 21 ketua secara lengkap tanpa ada yang absen menjadi bukti bahwa forum ini mewakili suara bulat seluruh kabupaten dan kota.
Agenda pertemuan dibuat tunggal: menyatakan dukungan terbuka secara bersama-sama. Tidak ada pembahasan lain agar pesan ke publik tetap fokus dan tidak menimbulkan spekulasi. Dukungan kolektif dipilih karena bobot politiknya lebih kuat dibanding dukungan perorangan. Dalam tradisi partai, pernyataan bersama dipakai untuk menunjukkan legitimasi sekaligus kebulatan tekad.
Langkah itu sekaligus menutup peluang manuver elite di wilayah abu-abu. Dengan pernyataan terbuka dan serentak, posisi Golkar Sulsel jadi terang. Publik dan lawan politik membaca sinyal yang sama: partai berlambang pohon beringin ini tidak memberi ruang untuk spekulasi arah dukungan.
Sosok yang mendapat dukungan bulat 21 Ketua DPD II adalah Munafri Arifuddin. Di Sulsel, ia akrab disapa Appi. Dukungan disampaikan langsung dalam forum dan disaksikan seluruh ketua yang hadir. Statusnya resmi dan menutup ruang multitafsir.
Bagi Appi, dukungan ini menjadi modal politik signifikan. Restu datang dari struktur resmi partai di semua daerah. Di struktur partai, DPD II adalah mesin yang paling paham medan. Mereka yang menggerakkan saksi, merawat konstituen, dan menjaga suara di TPS. Dapat restu dari mereka berarti dapat akses ke jaringan paling bawah yang sudah teruji.
Forum ini juga mengirim pesan politik yang jelas: barisan Golkar tingkat kabupaten dan kota sedang rapat dan satu komando. Istilah rapat merujuk pada minimnya potensi friksi atau tarik-menarik arah di internal daerah. Semua sudah berada dalam satu garis komando.
Kondisi satu komando itu krusial karena Sulsel dikenal sebagai medan politik yang dinamis. Peta koalisi sering berubah, tokoh lokal kuat, dan basis pemilih cenderung cair. Jika mesin partai tidak kompak sejak awal, Golkar rawan kehilangan momentum. Dengan barisan yang sudah terkunci, manuver politik bisa lebih cepat dieksekusi.
Ketika 21 DPD II sudah satu suara, kerja politik Golkar ke depan menjadi lebih ringan. Partai tidak perlu lagi menghabiskan energi untuk konsolidasi internal dari nol. Waktu dan tenaga bisa langsung dialihkan ke strategi pemenangan dan penggalangan di luar.
Soliditas internal tersebut dipandang sebagai bekal penting menghadapi dinamika politik Sulsel. Mulai dari kontestasi elektoral, lobi kebijakan, sampai penentuan arah koalisi. Dengan barisan yang utuh sejak awal, Golkar diyakini lebih lincah membaca perubahan peta politik dibanding jika mesin partainya masih terpecah.( Yahya )
