MULIAINFO. COM - MAKASSAR - Miris dan memalukan! Di saat Pemerintah Kota Makassar di bawah komando Wali Kota Munafri Arifuddin gencar mengkampanyekan Makassar Bersih, justru ada oknum Kepala Sekolah baru yang diduga dengan sengaja tutup mata terhadap jeritan siswa soal WC rusak.
Padahal WC adalah cerminan paling jujur dari sebuah sekolah. Kalau WC-nya saja jorok, bagaimana kualitas kepemimpinannya? Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar warga saat ini.
Coba bandingkan! Masih banyak sekolah di Makassar, bahkan sekolah yang bangunannya tidak megah, tapi mereka sangat memperhatikan kebersihan WC. Lantainya dipel setiap hari, pintunya dicat, klosetnya bersih mengkilap, airnya mengalir lancar, bahkan diberi pengharum.
Mereka paham, kebersihan WC adalah harga diri sekolah. Tapi tidak dengan sekolah yang dipimpin oknum Kepsek baru ini. Diduga terbalik 180 derajat! Sekolah lain berlomba bersih, sekolah ini diduga berlomba membiarkan kotor.
Pantauan langsung tim kami di lapangan pada tanggal 2 kemarin sangat mengejutkan. Pintu WC diduga lepas tengahnya tidak diperbaiki, jebol di bagian bawah sehingga tidak bisa dipakai karena privasi siswa terancam terlihat dari bawah saat digunakan.
Kloset diduga kotor di sana-sini, ada yang sangat kotor dan tidak bersih, kran air rusak, selang tidak ada, bak air kosong dan berlumut hitam. Lantai licin penuh lumut, dinding penuh coretan, dan bau tidak sedap menyengat hingga ke koridor kelas.
Untuk apa bangga dengan bangunan sekolah yang berdiri megah, dicat, pagar tinggi, lapangan luas, kalau di belakangnya WC tidak dihiraukan? Apa artinya bangunan sekolah yang megah kalau siswa tidak nyaman menggunakan fasilitas sanitasi?
Yang paling miris, berdasarkan laporan warga, ada sekolah yang diduga hanya memiliki 1 WC saja, sementara jumlah siswanya ratusan orang. Tentu ini sangat tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Bagaimana mungkin ratusan siswa harus antri di 1 WC saja?
Jika benar hanya ada 1 WC untuk ratusan siswa, ini jelas diduga melanggar Permendikbud Nomor 24 Tahun 2007. Aturan itu mewajibkan rasio 1 WC untuk 40 siswa laki-laki dan 1 WC untuk 30 siswa perempuan. Jika siswanya 300 orang, minimal harus ada 8-10 WC yang layak.
Kondisi 1 WC untuk ratusan siswa ini perlu dipertanyakan. Kemana Dinas Pendidikan Kota Makassar selama ini? Mengapa tidak ada penambahan WC? Padahal ini adalah kebutuhan dasar dan hak dasar siswa untuk mendapatkan sanitasi yang layak dan sehat.
Yang paling kasihan adalah siswa. Mereka adalah korban nyata dari dugaan kemalasan seorang pemimpin. Anak-anak SD yang masih kecil harus antri panjang di satu WC, harus menahan napas karena bau, harus menahan malu karena pintu jebol dilihat teman.
Ada siswi yang mengaku tidak berani ke WC seharian di sekolah dan memilih menahan hingga pulang ke rumah. Ini sudah membahayakan kesehatan! Di mana tanggung jawab Kepsek sebagai orang tua di sekolah?
Oknum Kepsek baru ini dinilai warga malas dan tidak punya etos kerja. Setiap hari datang, langsung masuk ruangan ber-AC, duduk manis, tanda tangan surat, lalu rapat. Diduga tidak pernah sekalipun terlihat turun ke lapangan mengecek kondisi kebersihan WC siswa.
Sudah tahu rusak tapi diduga pura-pura tidak tahu. Laporan soal kondisi WC dan pintu rusak diduga sudah sering disampaikan melalui grup internal sekolah, bahkan siswa sudah curhat ke wali kelas soal fasilitas yang tidak layak. Tapi apa respon Kepsek? Diduga diam seribu bahasa.
Lebih ironis, setiap bulan ada saja agenda rapat. Rapat koordinasi kebersihan, rapat implementasi program kebersihan Pak Wali, rapat Adiwiyata, rapat UKS. Undangannya bagus, notulennya rapi, foto rapat diposting di medsos sekolah biar kelihatan kerja. Tapi hasilnya? Diduga NOL!
Kinerja kebersihan diduga tidak pernah diterapkan sama sekali di sekolah ini. Program Jumat Bersih hanya jadi slogan di spanduk, jadwal piket kebersihan tidak ada, petugas kebersihan tidak difasilitasi alat pel dan sabun. Di atas kertas laporan ke Dinas, semua program diklaim 100% jalan.
Wali murid pun sudah sangat geram. Mereka menyekolahkan anak dengan harapan anak belajar nyaman, sehat, dan bersih. Tapi apa yang didapat? Anak mereka harus menggunakan WC yang diduga tidak layak dan jumlahnya tidak memadai. Banyak wali murid yang protes, tapi suaranya diduga dibungkam.
Program kebersihan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang sudah sangat gencar, menjadi tercoreng gara-gara ulah oknum Kepsek malas seperti ini. Ini adalah bentuk pembangkangan halus terhadap program Wali Kota yang harus bersih sampai ke toilet sekolah.
Untuk itu, kami mendesak Wali Kota Munafri Arifuddin dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar untuk segera turun tangan langsung. Datang dan sidak langsung ke toilet sekolah ini. Hitung berapa jumlah WC yang ada dan bandingkan dengan jumlah siswa.
Pertanyaan besarnya adalah, anggaran pemeliharaan ada, Dana BOS setiap tahun cair ratusan juta, lalu kemana larinya? Untuk memperbaiki pintu WC saja tidak mampu, untuk menambah jumlah WC bagi ratusan siswa saja tidak bisa. Jika 1 WC untuk ratusan siswa dibiarkan, maka ini harus diaudit oleh Inspektorat. Makassar harus bersih, mulai dari toilet sekolah!
Tim Investigasi Putri Mulia Media Group
