06 Agustus 2026

SMPN 31 Makassar Hidupkan Lahan Kosong Jadi Kebun Produktif Lewat Urban Formin

Tags


MULIAINFO. COM -- MAKASSAR– Di tengah padatnya pemukiman Kota Makassar, SMPN 31 Makassar mulai mengubah halaman sekolah yang dulunya kosong menjadi area hijau produktif. Melalui program _urban farming_, sekolah ini menanam sayur, tanaman obat, dan buah dalam pot, polybag, serta bedengan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus pendidikan lingkungan.

Program ini digagas oleh guru bersama siswa sebagai bentuk kepedulian terhadap isu perubahan iklim dan minimnya lahan pertanian di perkotaan. Kepala SMPN 31 Makassar menyebut urban farming dipilih karena sederhana, murah, dan bisa langsung dipraktikkan anak-anak.

Lahan seluas beberapa petak di belakang sekolah kini disulap jadi “kelas hidup”. Ada tanaman cabai, tomat, bayam, kangkung, hingga jahe dan kunyit. Setiap kelas mendapat tanggung jawab merawat 1-2 petak. Ada jadwal piket menyiram, memupuk, dan mencatat pertumbuhan tanaman.

Tidak hanya menanam di tanah. Karena keterbatasan ruang, sekolah juga menguji teknik tanam vertikal dan hidroponik sederhana. Botol bekas dan pipa paralon dimanfaatkan agar hasil panen tetap maksimal walau lahan sempit. Sampah organik dari kantin sekolah diolah jadi kompos untuk pupuk.

Siswa mengaku antusias. Mereka yang awalnya hanya tahu sayur di pasar, kini belajar proses dari bibit sampai panen. “Dulu saya kira nanam itu gampang. Ternyata harus sabar, harus dirawat tiap hari,” kata salah satu siswa kelas 8 saat memanen kangkung.


Guru IPA dan PJOK dilibatkan untuk mengintegrasikan materi. Saat pelajaran IPA dibahas fotosintesis dan ekosistem. Saat PJOK dibahas manfaat sayur untuk gizi. Hasil panen sebagian dikonsumsi di kantin sehat sekolah, sebagian lagi dibagikan ke guru dan warga sekitar.

Program ini sejalan dengan arahan Pemerintah Kota Makassar yang mendorong setiap instansi dan sekolah mengembangkan urban farming. Di kota yang lahannya terbatas, sekolah dianggap sebagai titik strategis untuk menanamkan budaya menanam sejak dini.

Selain dampak pangan, dampak lingkungan juga jadi fokus. Dengan adanya tanaman, suhu halaman sekolah terasa lebih sejuk. Siswa juga lebih sadar membuang sampah pada tempatnya karena sampah bisa jadi pupuk. Mental “buang” perlahan diganti jadi mental “kelola”.

Kendala tetap ada. Musim kemarau membuat penyiraman jadi tantangan, dan hama kadang menyerang tanaman. Untuk itu sekolah bekerja sama dengan penyuluh pertanian setempat agar siswa dapat pelatihan langsung tentang pengendalian hama organik.

Ke depan, SMPN 31 menargetkan menjadikan kebun sekolah sebagai laboratorium terbuka. Rencananya akan ditambah kolam budikdamber — budidaya ikan dalam ember — agar siswa belajar keterpaduan antara tanaman dan ikan, seperti sistem akuaponik sederhana.

Tagline “Dari Sekolah untuk Bumi yang Lebih Lestari” dipilih bukan tanpa alasan. Sekolah ingin menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai dari hal kecil. Jika 1000 sekolah di Makassar punya 1 petak kebun, dampaknya akan besar untuk kota.

Orang tua siswa juga mulai mendukung. Beberapa orang tua membawa bibit dari rumah dan ikut dalam kerja bakti hari Sabtu. Harapannya, kebiasaan menanam ini terbawa sampai ke rumah dan memunculkan "urban farming keluarga”.

Dengan semangat gotong royong, SMPN 31 Makassar membuktikan sekolah tidak hanya tempat belajar teori. Sekolah juga bisa jadi penggerak perubahan. Dari pot kecil di halaman, lahir harapan besar: bumi yang lebih lestari dimulai dari generasi yang tahu cara merawatnya.