29 Agustus 2026

Gerak Cepat Kepsek Baru SDN Kaccia Kec Tamalate, Ibu Sitti Fatimah Berbaikan WC Sekolah Demi Kenyamanan Siswa


MULIAINFO.COM -- MAKASSAR --  
SDN Kaccia Kecamatan Tamalate Kota Makassar kini dipimpin wajah baru. Ibu Sitti. Fatimah, S.Pd.,M.Pd.I resmi menjabat sebagai kepala sekolah. Sejak awal menjabat, beliau langsung fokus membenahi fasilitas dasar sekolah.

Langkah pertama yang dilakukan adalah meninjau langsung kondisi WC sekolah. Menurut beliau, WC yang layak, bersih, dan aman adalah kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi untuk seluruh peserta didik.

Dari hasil peninjauan, ditemukan beberapa bilik WC rusak, saluran air tidak lancar, dan kebersihan yang belum maksimal. Kondisi ini dikhawatirkan bisa mengganggu kesehatan dan kenyamanan siswa selama di sekolah.

Sebagai kepala sekolah berlatar pendidikan .Pd. dan M.Pd.I, Ibu Fatimah menegaskan bahwa lingkungan sehat adalah penunjang utama proses belajar.  
“Kalau fasilitas dasar saja tidak nyaman, bagaimana anak bisa fokus belajar,” tegasnya.

Gerak cepat pun dilakukan. Bersama guru piket dan petugas kebersihan, Ibu Fatimah mendata kerusakan dan kebutuhan sarana pendukung seperti air bersih, sabun cuci tangan, dan tempat sampah di area WC.

Usai pendataan, rapat koordinasi digelar bersama komite sekolah dan pihak Korwil UPT SPF Kecamatan Tamalate untuk menyamakan langkah percepatan perbaikan.


Untuk pembiayaan, Ibu Fatimah mengambil inisiatif berjuang sendiri. Perbaikan diupayakan melalui alokasi dana BOS sekolah dengan pengelolaan yang transparan. Tidak ada beban tambahan kepada wali murid.

Selain perbaikan fisik, program edukasi kebersihan juga digulirkan. Siswa dibina melalui program PHBS dan jadwal piket WC harian agar fasilitas baru dapat dijaga dan dirawat bersama.

Langkah cepat ini mendapat sambutan positif dari para guru dan tenaga kependidikan. Mereka menilai kepemimpinan Ibu Sitti Fatimah tegas, peduli, dan langsung menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.

Ibu Fatimah menargetkan perbaikan WC rampung sebelum akhir semester ini. Dengan begitu, siswa bisa menikmati fasilitas baru saat kegiatan pembelajaran semakin padat.

Pihak Kecamatan Tamalate dan Dinas Pendidikan Kota Makassar mengapresiasi langkah tersebut. Fasilitas sanitasi yang layak merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian Sekolah Sehat dan Adiwiyata.

Dengan semangat “gerak cepat, kerja nyata”, Ibu Sitti Fatimah,S.Pd.,M.Pd.I berharap SDN Kaccia tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga menjadi sekolah yang nyaman, bersih, dan sehat bagi seluruh warga sekolah.



 

Disiplin Kepala SDN Bawakaraeng 3 Dipertanyakan, Sering Telat Datang dan Cepat Pulang


MULIAINFO. COM -- MAKASSAR -- Suasana pagi di SDN Negeri Bawakaraeng 3, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, seharusnya dimulai dengan apel dan pembinaan. Namun dalam beberapa bulan terakhir, rutinitas itu kerap molor. Penyebabnya: kepala sekolah yang datang terlambat.

Berdasarkan pantauan warga sekolah dan beberapa wali murid, keterlambatan bukan kejadian sekali-dua kali. Hampir setiap minggu kepala sekolah tiba di atas jam 08.00 WITA, padahal kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 07.30 WITA.

Keanehan lain juga muncul. Selain sering telat datang, kepala sekolah tersebut juga dikenal cepat pulang. Belum pukul 12.00 WITA, kendaraan dinasnya sudah terlihat meninggalkan halaman sekolah.

Kondisi ini membuat para guru kebingungan. Tanpa kehadiran pimpinan, rapat dadakan, pembinaan, hingga penandatanganan surat-surat penting sering tertunda berjam-jam.

Kalau ada tamu dari dinas atau orang tua murid butuh tanda tangan, kami harus nunggu. Kadang sampai besok baru bisa," ujar salah seorang guru yang enggan disebut namanya karena khawatir.

Dampaknya tidak hanya dirasakan guru. Anak-anak pun ikut kehilangan figur teladan. Upacara bendera yang seharusnya dipimpin kepala sekolah beberapa kali digantikan wali kelas.

 Beberapa wali murid mengaku kecewa. Mereka menitipkan anaknya untuk dididik dengan disiplin, tapi melihat pimpinan sekolah justru abai terhadap waktu.

"Kami datang mengantar jam 7, tapi gerbang kadang belum dibuka karena belum ada kepala sekolah. Anak-anak jadi nongkrong di luar," kata Ibu R, wali murid kelas 4.

SDN Bawakaraeng 3 sendiri merupakan salah satu sekolah negeri di pusat kota Makassar. Sekolah ini memiliki ratusan siswa dan belasan guru. Seharusnya manajemen waktu menjadi prioritas utama.

Ketika dikonfirmasi secara lisan, kepala sekolah berdalih sibuk dengan urusan administrasi di luar sekolah dan dinas. Namun alasan itu tidak menenangkan, karena terjadi berulang.

 Praktik datang terlambat dan pulang cepat jelas bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. PNS wajib hadir tepat waktu dan melaksanakan jam kerja penuh.

Komite sekolah mengaku sudah pernah menegur secara lisan. Tapi tidak ada perubahan signifikan. Teguran dianggap angin lalu.

 Para guru berharap ada evaluasi dari Dinas Pendidikan Kota Makassar. Mereka tidak menuntut pemecatan, hanya ingin ada ketegasan agar jam kerja dipatuhi.

Jika dibiarkan, kebiasaan buruk ini dikhawatirkan menular. Disiplin guru bisa melemah, dan akhirnya mutu pendidikan di SDN Bawakaraeng 3 ikut terdampak.

Publik kini menunggu langkah nyata dari Dinas Pendidikan Kota Makassar. Karena sekolah yang baik dimulai dari pemimpin yang memberi contoh. Teladan tidak bisa ditunda, dan waktu mengajar anak-anak tidak bisa diganti.

28 Agustus 2026

Penyaluran Bantuan Korban Kebakaran di Kes: Tello Dari Keluarga Besar SD Inpres Antang 2


MULIAIFO. COM. - MAKASSAR -- Musibah kebakaran yang terjadi di Kecamatan Tallo beberapa waktu lalu meninggalkan duka mendalam bagi warga terdampak. Banyak rumah yang hangus terbakar dan keluarga kehilangan tempat tinggal serta harta benda.

Merespons kejadian tersebut, Keluarga Besar SD Inpres Antang 2 bergerak cepat untuk menggalang bantuan. Kepedulian ini menjadi wujud nyata semangat gotong royong yang selalu ditanamkan di lingkungan sekolah.

Kegiatan penggalangan dana dan pengumpulan bantuan dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Ibu St. Zahrah Hidayat, S.Pd., M.Pd. Beliau mengajak seluruh guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, dan peserta didik untuk ikut berpartisipasi.

Dalam waktu singkat, terkumpul berbagai jenis bantuan. Mulai dari sembako, pakaian layak pakai, selimut, perlengkapan bayi, hingga bantuan dana tunai yang dikumpulkan secara sukarela oleh warga sekolah.

Penyaluran bantuan dilaksanakan pada hari ini, 28 Agustus 2026, bertempat di lokasi terdampak kebakaran di wilayah Kecamatan Tallo. Rombongan dari SD Inpres Antang 2 disambut hangat oleh warga dan perwakilan RT/RW setempat.


Ibu St. Zahrah Hidayat dalam sambutannya menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas musibah yang menimpa. Beliau berharap bantuan yang disalurkan dapat sedikit meringankan beban para korban.

“Ini bukan tentang seberapa besar bantuan yang kita berikan, tetapi tentang kepedulian kita sebagai sesama manusia. Semoga Allah membalas setiap kebaikan Bapak Ibu semua,” ujar Ibu Kepsek di hadapan warga.


Proses penyaluran dilakukan secara tertib dan langsung kepada kepala keluarga yang terdampak. Setiap paket bantuan dicek dan didata agar tepat sasaran dan merata.

Para guru dan orang tua siswa yang ikut turun langsung juga memberikan dukungan moril. Mereka berbincang dengan warga, mendengarkan cerita, dan memberikan semangat agar tetap kuat menghadapi ujian ini.

Warga penerima bantuan menyampaikan rasa terima kasih yang tulus. Bagi mereka, kehadiran Keluarga Besar SD Inpres Antang 2 menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri dan masih banyak orang yang peduli.

Kegiatan ini juga menjadi pembelajaran penting bagi peserta didik SD Inpres Antang 2. Melalui aksi nyata ini, anak-anak belajar tentang empati, solidaritas, dan pentingnya membantu sesama yang sedang kesusahan.

Ibu St. Zahrah Hidayat menegaskan bahwa kegiatan sosial seperti ini akan terus digalakkan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga tempat menumbuhkan karakter peduli dan berbagi.

Keluarga Besar SD Inpres Antang 2 mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Donasi dari orang tua, guru, dan masyarakat sekitar sangat berarti dalam meringankan beban saudara kita di Tallo.

Semoga bantuan yang telah disalurkan membawa berkah, dan semoga warga terdampak segera pulih serta dapat membangun kembali kehidupan mereka. Aamiin. Mari terus menebar kebaikan, karena sekecil apapun bantuan kita sangat berarti.



Donasi Kemanusiaan Korban Gempa Bumi NTT Dari SDN Inpres Panaikang III Makassar


MULIAINFO. COM -- MAKASSAR -- Alhamdulillah, dengan penuh rasa syukur keluarga besar SDN Inpres Panaikang III Makassar telah menyalurkan donasi kemanusiaan untuk saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur yang terdampak gempa bumi.

Bantuan ini merupakan hasil dari gerakan "Sedekah Dongeng" yang digagas oleh sekolah sebagai bentuk kepedulian nyata kepada sesama, khususnya kepada anak-anak dan keluarga yang sedang mengalami musibah.

Total dana yang berhasil dihimpun dari guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan wali murid mencapai Rp556.500. Jumlah ini mungkin sederhana, namun mengandung nilai kepedulian dan kebersamaan yang besar.

Proses penggalangan dana dilakukan selama beberapa minggu dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Setiap kelas berpartisipasi aktif, mulai dari bercerita, berdiskusi, hingga menyisihkan sebagian rezekinya.

Kegiatan "Sedekah Dongeng' sendiri menjadi sarana edukasi sekaligus aksi sosial. Melalui dongeng tentang empati dan tolong-menolong, anak-anak belajar bahwa membantu tidak harus menunggu kaya.

Serah terima donasi dilaksanakan secara simbolis di kantor sekolah dan disaksikan oleh seluruh dewan guru. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui lembaga kemanusiaan yang terpercaya untuk korban gempa NTT.


Kami meyakini bahwa setiap bantuan yang sampai kepada penerima akan meringankan beban mereka. Semoga donasi ini dapat digunakan untuk kebutuhan dasar seperti makanan, selimut, obat-obatan, dan perbaikan fasilitas belajar.

Di balik musibah, selalu ada pelajaran tentang kekuatan solidaritas. Gempa memang memisahkan jarak, tetapi tidak memisahkan hati. Dari Makassar untuk NTT, kita satu Indonesia.

Ucapan terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada "Ibu Kepala Sekolah Lis Bulkis, S.Pd.,M.Pd" yang telah menjadi motor penggerak, memberikan teladan, motivasi, dan doa sehingga kegiatan ini berjalan lancar.

Terima kasih juga kepada seluruh guru, orang tua, dan anak-anak hebat SDN Inpres Panaikang III Makassar. Kepedulian kalian adalah bukti bahwa pendidikan karakter berjalan seiring dengan pendidikan akademik.

Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini. Semoga menjadi awal dari gerakan-gerakan kebaikan lain yang lahir dari sekolah, karena sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat menumbuhkan hati.

Semoga setiap rupiah yang disedekahkan menjadi "amal jariyah" yang pahalanya terus mengalir. Semoga menjadi cahaya harapan bagi saudara kita di NTT dan menjadi keberkahan bagi kita semua.

Penutupnya, mari kita terus doakan saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur agar diberi kekuatan, kesabaran, dan pemulihan segera. Dan mari kita terus menebar kebaikan, sekecil apapun itu.  
_Makassar, 28 Agustus 2026_  
_SDN Inpres Panaikang 3 Makassar_




27 Agustus 2026

Maulid di SMPN 24 Makassar: Kepsek Babinkamtibmas Dan Babinsa Hadir, Tekankan Pendidikan Karakter


MULIAINFO. COM -- Makassar – SMP Negeri 24 Makassar menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan dipusatkan di Lapangan SMPN 24 Makassar mulai pukul 09.00 WITA.

Acara ini mengusung tema _“Cinta Rasul, Hormat Guru, Semangat Belajar, Membangun Generasi Beriman dan Berakhlak Mulia”. Tema tersebut menjadi ruh utama dalam seluruh rangkaian kegiatan.

Kepala SMPN 24 Makassar, Rahmia, S.Ag. M.Pd" bertindak sebagai pembina acara. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa Maulid harus menjadi penggerak perubahan sikap siswa agar lebih mencintai Rasul, hormat kepada guru, dan rajin belajar.

Tausiyah inti disampaikan oleh "Dr. Askar Yaman S.Pd., M.M., M.Pd. Beliau mengupas tentang kepemimpinan, kejujuran, dan akhlak Rasulullah SAW yang relevan untuk diterapkan siswa di era digital saat ini.


Yang menarik, acara ini juga dihadiri oleh "Bapak Babinkamtibmas dan Bapak Babinsa" setempat. Kehadiran keduanya menambah khidmat suasana dan menunjukkan sinergi antara sekolah dengan aparat keamanan wilayah.

Dalam kesempatan itu, Babinkamtibmas menyampaikan pesan kamtibmas agar siswa menjauhi pergaulan negatif dan bijak menggunakan media sosial. Sementara Babinsa mengajak siswa meneladani semangat disiplin dan cinta tanah air dari perjuangan Rasulullah.

Kehadiran aparat keamanan ini disambut baik oleh pihak sekolah. Menurut panitia, kolaborasi dengan Babinkamtibmas dan Babinsa penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif.

Acara berlangsung dengan rangkaian pembacaan ayat suci Al-Qur’an, shalawat, dan nasyid oleh siswa. Lapangan sekolah yang dihias spanduk hijau-emas menciptakan nuansa islami yang kental.

Ibu Rahmia selaku Kepala Sekolah mengapresiasi dukungan semua pihak, termasuk kehadiran Babinkamtibmas dan Babinsa. “Ini bukti bahwa pendidikan karakter tidak bisa jalan sendiri. Harus bersama aparat, guru, dan orang tua,” ujarnya.


Lebih dari 500 siswa tampak antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Mereka mendengarkan tausiyah dengan tertib dan aktif dalam sesi tanya jawab.

Peringatan 12 Rabiulawal 1448 H ini juga menjadi momentum silaturahmi antara warga sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat sekitar.

Panitia berharap nilai-nilai yang disampaikan dapat diimplementasikan siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun di lingkungan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. SMPN 24 Makassar berkomitmen menjadikan Maulid sebagai agenda tahunan untuk mencetak generasi yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan cinta NKRI.



Kegiatan Digitalisasi Pembelajaran Jenjang SD Oleh K3S Kec Tallo


MULIAIFO. COM -- MAKASSAR -- Kelompok Kerja Kepala Sekolah atau K3S Kecamatan Tallo kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar. Salah satu wujud nyata adalah dengan menggelar kegiatan Digitalisasi Pembelajaran Jenjang SD yang dilaksanakan pada hari Kamis.

Kegiatan ini bertempat di SD Inpres Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Pemilihan lokasi ini bertujuan agar kegiatan dapat menjangkau kepala sekolah dan guru-guru dari berbagai UPT SPF yang ada di wilayah Kecamatan Tallo.

Digitalisasi pembelajaran menjadi isu strategis saat ini. Tuntutan kurikulum dan perkembangan teknologi menuntut guru untuk mampu memanfaatkan perangkat digital dalam proses belajar mengajar agar lebih menarik, efektif, dan efisien.

K3S Kec. Tallo menghadirkan dua narasumber kompeten untuk mengisi materi. Pemateri pertama adalah "Fuad Anshar, S.E. yang mewakili Dinas Pendidikan Kota Makassar. Beliau menyampaikan kebijakan dan program pemerintah terkait transformasi digital di sekolah dasar.

Pemateri kedua adalah Dr. Suardi selaku Ketua K3S Kecamatan Tallo. Dalam pemaparannya, Dr. Suardi menekankan pentingnya kolaborasi antar sekolah dan kepala sekolah dalam menggerakkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.

Materi yang disampaikan mencakup pengenalan aplikasi pembelajaran digital, pemanfaatan media interaktif, hingga strategi mengelola kelas dengan bantuan teknologi. Para peserta juga diajak praktik langsung menggunakan tools yang ramah untuk guru SD.

Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Para kepala sekolah dan guru aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba langsung platform-platform digital yang diperkenalkan oleh kedua pemateri.


Salah satu sekolah yang turut berpartisipasi aktif adalah UPT SPF SDN Rappojawa 71. Kehadiran sekolah ini menjadi bukti bahwa satuan pendidikan di Kec. Tallo siap beradaptasi dengan perubahan zaman.

Kepala UPT SPF SDN Rappojawa 71, "Muh. Eri Rahim, S.Pd.,M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat. Menurutnya, guru-guru kini memiliki gambaran yang lebih jelas tentang cara mengintegrasikan teknologi ke dalam RPP dan proses pembelajaran harian.

Dalam sambutannya, Fuad Anshar, S.E. menegaskan bahwa Dinas Pendidikan Kota Makassar terus mendorong sekolah-sekolah untuk tidak gagap teknologi. "Digitalisasi bukan untuk menggantikan guru, tetapi untuk memperkuat peran guru," ujarnya.

Sementara itu, Dr. Suardi mengajak seluruh kepala sekolah di Kec. Tallo untuk menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing. "Mulai dari hal kecil seperti penggunaan aplikasi absensi digital, e-modul, hingga penilaian berbasis aplikasi," pesannya.

Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan berbagi praktik baik antar kepala sekolah. Banyak ide-ide baru muncul terkait bagaimana memanfaatkan HP dan laptop sekolah untuk kegiatan literasi digital siswa.

SD Inpres Kaluku Bodoa sebagai tuan rumah juga mendapat apresiasi karena telah memfasilitasi kegiatan dengan baik. Sarana dan prasarana yang mendukung membuat jalannya pelatihan menjadi lebih lancar.

Diharapkan setelah kegiatan ini, setiap sekolah di Kec. Tallo dapat membuat program tindak lanjut. Misalnya pelatihan lanjutan untuk guru, pembuatan konten digital oleh guru, dan pemanfaatan platform belajar yang sudah ada.

Dengan adanya kegiatan Digitalisasi Pembelajaran ini, K3S Kec. Tallo berharap mutu pendidikan di jenjang SD semakin meningkat. Sinergi antara Dinas Pendidikan, K3S, kepala sekolah, dan guru menjadi kunci utama mewujudkan sekolah dasar yang inovatif dan siap menghadapi era digital.

26 Agustus 2026

Diduga Oknum Kepsek Inisial Y Jalan ke Sekolah - Sekolah, Pernerbit Wajib Menghadap Ada Arahan Inisial PR


MULIAINFO. COM - MAKASSAR -- Yang turunp ke lapangan bukan penerbit. Tapi diduga oknum kepala sekolah. Dalam dua bulan terakhir, nama Kepsek berinisial Y jadi sorotan karena aktif "jalan" sendiri dari satu sekolah ke sekolah lain. Bukan untuk urusan pembelajaran. Tapi khusus mengurus buku. Kehadirannya selalu membawa pesan yang sama ke penerbit.

Praktik ini diduga menyimpang dari prosedur. Seharusnya pengadaan buku dilakukan terbuka lewat e-katalog atau pameran. Kenyataannya tidak. Semua dipusatkan. Diduga oknum Kepsek Y yang menjemput bola, datang ke sekolahnya, lalu memanggil penerbit satu per satu tanpa pengumuman resmi.

Arahannya diduga berasal dari oknum inisial PR. Nama PR tidak pernah tertulis, tapi selalu disebut dalam pertemuan tertutup. "Ini dari PR, jadi tolong diikuti," begitu pembuka kalimat yang disampaikan. Isinya: semua urusan buku wajib lewat dirinya di sekolah. PR diduga mengarahkan, Y diduga mengeksekusi.

Ancaman yang menyertai juga diduga keras. Kalimatnya: "Wajib diambil di sekolah. Kalau tidak, bisa dipatah." Kata "dipatah" diartikan penerbit sebagai pemutusan akses. Buku tidak akan masuk, tidak diizinkan sosialisasi, bahkan bisa diblacklist. Beberapa penerbit mengaku sudah merasakan akibatnya.

Karena diduga oknum Kepsek Y yang jalan dan menentukan jadwal, penerbit kecil jadi korban pertama. Mereka harus keluar biaya transport, cuti kerja, dan antre lama hanya untuk pertemuan singkat. Sementara itu kepastian tidak ada. Persaingan jadi tidak sehat. Yang menang bukan mutu buku, tapi siapa paling kuat ongkos jalan.

Pertemuan diduga tidak dilakukan terbuka dan tidak tercatat. Tidak ada undangan resmi, tidak ada berita acara, tidak ada daftar hadir. Semuanya berlangsung satu-satu di ruang kepsek, pintu tertutup. Kondisi ini menciptakan ruang gelap. Tidak ada yang bisa mengawasi, tidak ada bukti tertulis. Bagi penerbit, ini berarti semua kesepakatan hanya berdasarkan omongan.

Guru dan bendahara di beberapa sekolah mengaku berada dalam posisi dilema. Mereka tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, tapi diminta menyiapkan tempat dan waktu saat diduga oknum Kepsek Y memanggil penerbit. Beberapa staf mengaku takut bersuara karena khawatir ditegur. "Kami hanya menjalankan," kata salah satu sumber yang minta dirahasiakan identitasnya.

Aturan pengadaan buku di sekolah sebenarnya jelas. Harus terbuka, kompetitif, dan tidak menunjuk satu pihak. Tapi dengan skema "wajib ke sekolah dan wajib lewat Kepsek Y", prinsip itu diduga ditabrak mentah-mentah. Pintu masuk dipersempit. Akibatnya asas keadilan dan transparansi hilang. Yang tersisa hanya satu jalur: lewat orang.

Diduga oknum PR berperan sebagai pengarah di balik layar. Tugasnya memberi komando. Diduga oknum Kepsek Y berperan sebagai eksekutor di lapangan yang jalan dari sekolah ke sekolah. Pola ini membuat rantai komando pendek tapi kuat. Satu perintah, langsung dieksekusi. Tidak ada filter, tidak ada pengawasan berjenjang.

Akibatnya standar mutu buku dikesampingkan. Yang jadi ukuran bukan isi, harga, atau kebutuhan siswa. Tapi kecepatan respon dan kepatuhan penerbit pada panggilan diduga oknum Kepsek Y. Buku yang bagus tapi telat datang bisa dicoret. Buku yang biasa saja tapi cepat menghadap bisa lolos. Dalam jangka panjang ini merusak ekosistem literasi.

Lebih parah lagi, beberapa penerbit mengaku ada permintaan "biaya operasional" saat pertemuan. Nilainya bervariasi, dari ratusan ribu sampai jutaan. Tidak ada kuitansi, tidak ada laporan. Alasannya selalu sama: untuk kegiatan sekolah, untuk konsumsi rapat, untuk administrasi. Karena tidak ada bukti, penerbit tidak bisa menolak. Kalau menolak, akses diputus.

Orang tua dan siswa adalah pihak yang paling dirugikan. Karena prosesnya tertutup, harga buku tidak bisa dibandingkan antar penerbit. Pilihan judul juga terbatas, hanya yang "lolos" ke meja diduga oknum Kepsek Y. Akibatnya siswa bisa jadi menerima buku yang harganya lebih mahal tapi mutunya biasa saja. Beban ekonomi keluarga pun bertambah.

Pengamat pendidikan menilai ini bentuk pembelokan fungsi yang berbahaya. Tugas kepala sekolah adalah memimpin pembelajaran, bukan menjadi makelar buku keliling. "Kalau kepsek disibukkan urusan dagang, siapa yang mengurus mutu ajar? Ini preseden buruk," ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pendidikan mengaku belum menerima laporan resmi terkait dugaan ini. Pihaknya menyatakan akan menelusuri jika ada bukti dan saksi. Sementara itu, upaya konfirmasi ke pihak dengan inisial Y dan PR belum mendapat jawaban. Pesan dan panggilan yang dikirim belum direspons.

Jika dugaan ini benar dan terus dibiarkan, maka sekolah tidak lagi menjadi rumah ilmu. Ia berubah menjadi pasar tertutup yang dikuasai segelintir orang. Literasi anak digadaikan, integritas pendidikan dilukai. Dan yang menanggung akibatnya bukan siapa-siapa, selain siswa, orang tua, dan penerbit jujur yang ingin membangun bangsa lewat buku.