MULIAINFO. Com. MAKASSAR -- UPT SPF SDI Batua 1 Kota Makassar kembali menandai 22 April sebagai Hari Bumi dengan aksi, bukan hanya wacana. Sejak pagi halaman sekolah berubah jadi panggung gerakan lingkungan. Bendera hijau dikibarkan, spanduk "Satu Bumi, Satu Masa Depan" terbentang. Tujuannya jelas: menanamkan sejak dini bahwa menjaga bumi itu kewajiban, bukan pilihan.
Ibu Kepala Sekolah Hijrah Nurjanah Husmal, S.Pd memimpin langsung apel pembukaan. Dengan suara tegas beliau mengingatkan 400 siswa: "Bumi tidak butuh pahlawan, bumi butuh anak-anak yang tidak buang sampah sembarangan". Apel dilanjut yel-yel "Batua 1 Go Green" yang disambut teriakan kompak seluruh warga sekolah.
Tema gerakan global Earth Day 2026 "Our Power, Our Planet" diterjemahkan ke bahasa anak: "Tenaga Kita, Bumi Kita". Artinya energi kecil dari 1 siswa bisa jadi gelombang besar kalau dikerjakan bersama. Siswa kelas 1 belajar pilah sampah, kelas 4 belajar kompos, kelas 6 belajar audit energi kelas. Semua punya peran, nggak ada yang jadi penonton.
Hijrah Nurjanah Husmal, S.Pd menegaskan peringatan 22 April bukan seremoni tahunan lalu selesai. "Kalau hari ini kita tanam pohon, besok kita siram. Kalau hari ini kita bebas plastik, bulan depan kantin kita zero waste," ujarnya di depan guru dan komite. Bagi beliau, konsistensi lebih penting dari kemeriahan.
Aksi nyata langsung jalan setelah apel. 50 bibit pohon trembesi dan mahoni ditanam di sudut sekolah yang dulu gersang. Siswa gantian menyiram sambil pasang nama di tiap pohon: "Pohonnya Rani", "Pohonnya Fajar". 3 tahun lagi pohon itu jadi saksi bahwa angkatan 2025 pernah peduli. Ini bukan sekadar tanam pohon, ini titip masa depan.
Lomba kreasi sampah jadi magnet anak. Botol bekas disulap jadi pot bunga, kardus jadi mobil-mobilan, tutup botol jadi mozaik "Save Earth". Juri kewalahan milih juara karena semua karya punya cerita. Lewat lomba ini anak belajar 1 hal: sampah bukan akhir, tapi awal karya baru kalau mau mikir.
Hijrah Nurjanah Husmal, S.Pd langsung sikat ke kebijakan. Mulai pekan depan kantin sekolah dilarang pakai styrofoam dan sedotan plastik. Siswa wajib bawa tumbler dan kotak bekal. "Kalau kami ngajarin cinta bumi tapi kantin masih jual sampah, berarti kami munafik," tegas beliau. Kebijakan ini dapat dukungan penuh komite sekolah dan orang tua.
Beliau juga bongkar mindset "22 April selesai". Menurut Hijrah Nurjanah, Hari Bumi harus jadi alarm harian. Target SDI Batua 1 jelas: 1 tahun ke depan 80% sampah organik jadi kompos, tagihan listrik turun 15% karena lampu dimatikan saat istirahat, dan tiap siswa punya 1 pohon asuh. "Kemeriahan tanpa perubahan itu omong kosong," katanya.
Orang tua dan komite sekolah nggak tinggal diam. Puluhan wali murid hadir bawa bibit, pupuk, dan tenaga. Ketua Komite bilang, "Rumah kami siap jadi pos pilah sampah. Guru sudah contoh, anak sudah gerak, masa orang tua tinggal scroll HP?" Kolaborasi ini bikin aksi Hari Bumi terasa seperti kerja kampung, bukan kerja dinas.
Acara ditutup dengan aksi simbolis: 500 balon kertas berisi harapan siswa diterbangkan. Isinya doa untuk bumi: "Semoga sungai tidak hitam lagi", "Semoga pohon tidak ditebang". Hijrah Nurjanah Husmal, S.Pd berpesan terakhir: "Peringatan hari ini akan sia-sia kalau besok kalian masih buang bungkus permen sembarangan. Batua 1 harus jadi bukti bahwa anak SD juga bisa selamatkan bumi." ( Yahya )
